Jakarta , Poskota Nasional
Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, sejumlah kalangan menggelar dialog terbuka dan refleksi bertajuk “Dua Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Indonesia Menuju Kebangkrutan? Keadilan Tertunda, Rakyat Sengsara” di Gedung Sumsel, Pecenongan, Jakarta Pusat, Sabtu (17/10/2026).
Diskusi ini menjadi ruang terbuka bagi para pembicara dan peserta untuk mengevaluasi perjalanan pemerintahan selama dua tahun terakhir, sekaligus menyampaikan kritik, pandangan, serta harapan terhadap arah kebijakan negara ke depan.
Ketua Panitia Pelaksana, Ali Pudi, mengatakan bahwa dialog tersebut diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa dan upaya mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pemerintahan.
Menurut Ali Pudi, refleksi dua tahun pemerintahan harus menjadi momentum untuk melihat secara objektif sejauh mana kebijakan yang telah dijalankan mampu menjawab persoalan masyarakat, terutama dalam aspek keadilan, kesejahteraan rakyat, dan kualitas kehidupan demokrasi.
“Melalui dialog terbuka ini, kita ingin melihat dan mengoreksi apa yang telah dilakukan pemerintah selama dua tahun terakhir. Kita berharap ke depan ada perbaikan nyata agar penyelenggaraan negara benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat,” ujar Ali Pudi.
Ia menegaskan, kritik dan evaluasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Pemerintah perlu membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, mempertanyakan kebijakan yang dinilai bermasalah, serta menawarkan solusi bagi masa depan bangsa.
Evaluasi Kinerja dan Pilihan Perbaikan Sistem
Dalam dialog tersebut, sejumlah persoalan mendasar menjadi perhatian, mulai dari evaluasi kinerja pemerintahan, efektivitas kebijakan publik, hingga kemungkinan perlunya pembenahan sistem penyelenggaraan negara.
Ali Pudi menyampaikan bahwa apabila berbagai persoalan belum dapat diselesaikan secara memadai, diperlukan keberanian untuk melakukan koreksi dan mencari jalan keluar yang konstitusional. Pembenahan tersebut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat, stabilitas nasional, serta keberlangsungan demokrasi.
Ia juga menyoroti pentingnya mendengar suara masyarakat yang mulai mempertanyakan efektivitas kepemimpinan dan kebijakan pemerintah. Aspirasi tersebut, menurutnya, harus dijawab melalui evaluasi yang serius, transparan, dan bertanggung jawab.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita mencari solusi. Apakah kebijakan yang ada perlu diperbaiki, apakah sistem penyelenggaraan negara perlu dibenahi, atau apakah diperlukan langkah lain sesuai mekanisme konstitusi. Semua harus dibicarakan secara terbuka dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat,” tegasnya.
Menghadirkan Perspektif Kritis dan Alternatif Solusi
Dialog terbuka ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Prof. Dr. Sri Bintang Pamungkas, Dr. Syukur Mandar, S.H., M.H., serta Ustaz Eka Jaya.
Kehadiran para pembicara diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai situasi politik, ketatanegaraan, keadilan sosial, dan arah pembangunan Indonesia. Forum ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan pandangan serta mendiskusikan alternatif solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Penyelenggara menegaskan bahwa evaluasi pemerintahan tidak semata-mata bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan dan langkah perbaikan yang dapat dipertanggungjawabkan secara demokratis dan konstitusional.
Mengutamakan Kepentingan Rakyat
Sebagai penutup, Ali Pudi berharap dialog terbuka semacam ini dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan kekuasaan negara.
Ia menekankan bahwa pemerintahan harus senantiasa terbuka terhadap kritik, melakukan koreksi terhadap kebijakan yang tidak efektif, serta memastikan bahwa keadilan dan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama,tambah Ali Pudi Kepada Poskota Nasional
