JAKARTA, Poskota Nasional
Budaya literasi di kalangan praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dinilai perlu terus diperkuat. Tidak hanya melalui seminar, webinar, pelatihan, maupun demonstrasi di lapangan, tetapi juga dengan mendokumentasikan pengalaman dan pengetahuan dalam bentuk tulisan dan buku.
Hal tersebut disampaikan tokoh K3, Hendra Jati, saat ditemui Poskota Nasional.com di sela-sela acara pameran RHVAC Indonesia 2026 di NICE PIK 2, Jakarta, Rabu (9/9/2026)
Menurut Hendra, berbagai pengetahuan dan pengalaman para praktisi K3 akan jauh lebih bermanfaat apabila dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebab, materi yang hanya disampaikan secara lisan dalam seminar atau webinar berpotensi hilang setelah kegiatan selesai.
“Kalau kita berbicara panjang lebar sebagai narasumber di webinar atau kampus, setelah itu bisa hilang. Tetapi kalau dituangkan dalam tulisan, pengetahuan itu tidak akan hilang. Bisa dibaca dan dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujar Hendra.
Ia mengajak para praktisi, akademisi, maupun tokoh K3 untuk mulai membiasakan diri menulis. Menurutnya, menulis tidak harus selalu dimulai dari karya yang besar.
Pengalaman sehari-hari di perusahaan, materi toolbox meeting, safety talk, hasil investigasi, maupun pengalaman menangani persoalan keselamatan dapat menjadi bahan tulisan yang sangat berharga.
“Jangan berpikir menulis itu harus sulit. Apa yang kita sampaikan secara lisan sebenarnya bisa dituangkan menjadi tulisan. Yang penting mulai dikerjakan,” katanya.
Hendra menilai, pengalaman seorang praktisi K3 memiliki nilai pengetahuan yang tinggi.
Pengalaman seseorang yang telah bertahun-tahun berkecimpung di bidang K3, menurutnya, jangan sampai berhenti pada dirinya sendiri.
“Kalau pengalaman si A, si B, si C dituliskan, kemudian dikumpulkan, generasi muda bisa mempelajarinya. Ilmunya tidak sia-sia,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong perusahaan untuk mengumpulkan materi-materi komunikasi K3 yang selama ini digunakan dalam kegiatan safety meeting, toolbox meeting, maupun safety talk.
Menurutnya, jika materi tersebut ditulis dan dikumpulkan secara konsisten selama satu hingga dua tahun, bukan tidak mungkin dapat menjadi sebuah buku yang mendokumentasikan praktik komunikasi K3 di perusahaan.
“Misalnya setiap kali membuat materi K3 untuk safety meeting atau safety talk, jangan hanya selesai dipresentasikan. Kumpulkan dan dokumentasikan. Setahun atau dua tahun kemudian bisa menjadi buku. Nama penulisnya juga dicantumkan. Itu bisa menjadi karya dan warisan pengetahuan,” tutur Hendra.
Berawal dari Sulitnya Mencari Buku K3
Hendra mengungkapkan, gagasan untuk memperkuat literasi K3 juga berangkat dari pengalamannya ketika masih sering bepergian ke berbagai daerah di Indonesia.
Ia mengaku pernah kesulitan menemukan buku-buku K3 ketika mencari referensi di toko buku.
“Dulu ketika saya berada di Kalimantan, kalau mencari buku K3 itu sulit. Saya sampai harus ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau daerah lain untuk mencari referensi. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak membuat sendiri?” kenangnya.
Dari pengalaman tersebut, Hendra kemudian mulai mendorong lahirnya berbagai buku yang berkaitan dengan K3, termasuk buku mengenai komunikasi dan keselamatan kerja serta materi dasar bagi tenaga ahli K3.
Baginya, buku bukan sekadar pelengkap sebuah kegiatan.
Buku merupakan dokumentasi yang dapat terus digunakan bahkan setelah sebuah seminar atau pelatihan selesai.
“Walaupun mungkin sekarang belum dibaca, suatu saat ketika dibutuhkan, buku itu akan ada. Karena itu kita perlu membudayakan literasi,” katanya.
Menargetkan Karya yang Berkelanjutan
Hendra juga mengapresiasi kegiatan yang secara konsisten diselenggarakan setiap tahun dan menghasilkan karya tertulis.
Ia berharap tradisi tersebut dapat terus berlanjut sehingga setiap kegiatan tidak berhenti pada acara semata, tetapi meninggalkan dokumentasi yang dapat dipelajari generasi berikutnya.
“Kalau kegiatan dilakukan setiap tahun selama sepuluh tahun, misalnya, kita bisa menghasilkan sepuluh buku. Jadi setiap kegiatan meninggalkan sesuatu yang bisa diwariskan,” ujarnya.
Dalam sebuah kegiatan literasi K3 yang diikutinya, peserta juga didorong untuk menghasilkan tulisan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masing-masing.
Dari belasan peserta yang hadir, setiap orang dapat menyumbangkan beberapa halaman tulisan sehingga pada akhirnya dapat dihimpun menjadi sebuah karya bersama.
Menurut Hendra, pendekatan tersebut merupakan salah satu cara untuk memancing minat para praktisi K3 agar mulai berani menulis.
“Tujuannya memancing minat para praktisi K3 supaya mau menulis. Dari tulisan-tulisan kecil itu nanti bisa menjadi karya yang lebih besar,” jelasnya.
Budaya K3 Harus Masuk ke Masyarakat
Lebih jauh, Hendra menegaskan bahwa budaya K3 tidak boleh hanya berkembang di dunia usaha dan dunia industri. Keselamatan juga harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ia mencontohkan berbagai program sederhana di lingkungan masyarakat, seperti menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, pemasangan rambu keselamatan, petunjuk jalur evakuasi, hingga edukasi cara menghadapi kebakaran.
Menurutnya, masyarakat perlu diberikan pemahaman praktis agar tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat.
“Misalnya masyarakat perlu tahu bagaimana cara memadamkan api dan apa yang harus dilakukan ketika melihat kebakaran. Hal-hal sederhana seperti ini merupakan bagian dari budaya K3,” katanya.
Ia berharap program-program sosial kemasyarakatan terkait K3 dapat terus dilakukan dan disinergikan dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi, perusahaan, akademisi, hingga lingkungan masyarakat.
K3 Harus Dibangun Melalui Sinergi
Hendra menilai kolaborasi menjadi kunci untuk memperluas budaya K3 di Indonesia.
Menurutnya, kemajuan budaya keselamatan tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja.
“Kalau mau maju, kita harus bersinergi. Harapannya masyarakat termotivasi untuk hadir dan memahami K3. Keselamatan itu bukan hanya urusan perusahaan atau orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri,” tegasnya.
Ia berharap Indonesia ke depan tidak hanya memiliki regulasi dan program K3 yang baik, tetapi juga memiliki masyarakat yang benar-benar berbudaya K3.
“Harapan terbesar saya, Indonesia tetap bisa menjadi negara yang berbudaya K3. Bukan hanya di dunia usaha dan dunia industri, tetapi juga di masyarakat,” pungkas Hendra.
Bagi Hendra, membangun budaya K3 pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak seminar atau kegiatan yang diselenggarakan, melainkan seberapa banyak pengetahuan yang berhasil didokumentasikan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Terus berbuat, terus berbagi, dan terus menulis. Karena ilmu yang dituliskan akan lebih panjang umurnya.”
