MalAlamSutera ,Poskota Nasional
Semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan perlombaan khas 17 Agustus 2026.
Semangat kemerdekaan juga dapat dimaknai melalui kecintaan dan keberanian untuk melestarikan budaya Indonesia.
Semangat tersebut hadir dalam rangkaian pagelaran budaya Local Nation selama dua hari, 15–16 Agustus 2026, yang digelar di Mall Alam Sutera, Tangerang, melalui kolaborasi komunitas budaya, Managemant Mall Alam Sutera, dan sejumlah mitra serta komunitas lainnya.

Mengusung beragam kegiatan budaya, acara ini diselenggarakan penyelenggara oleh The Culture Hub yang merupakan komunitas budaya dengan menghadirkan sekitar 18 aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai usia.
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan bahwa budaya Indonesia tidak identik dengan sesuatu yang kuno atau “jadul”.
Sebaliknya, budaya dapat tampil menarik, kreatif, inklusif, dan relevan dengan kehidupan generasi masa kini.
“Kita ingin memberikan pemahaman bahwa berbudaya itu tidak hanya yang jadul-jadul. Anak-anak muda dan anak-anak kecil harus tahu bahwa budaya Indonesia itu asyik.
Saat budaya Jepang, Barat, dan Korea begitu kuat memengaruhi kehidupan kita, sudah saatnya budaya Indonesia menjadi pemenang di negeri sendiri.”
Semangat itu juga sejalan dengan gagasan Bung Karno mengenai Trisakti, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Karena itu, momentum 17 Agustus ke-81 ini dimaknai sebagai momentum untuk merayakan kemerdekaan dalam berbudaya.
Rangkaian kegiatan tidak hanya menyajikan budaya Jawa, tetapi juga menghadirkan keberagaman budaya Nusantara.
Pada hari pertama, masyarakat dapat menyaksikan fashion show busana adat dari berbagai daerah, antara lain Dayak, Papua, Minangkabau, dan berbagai busana tradisional lainnya.
Selain fashion show, rangkaian acara juga menghadirkan aktivitas seperti pertunjukan budaya, lomba merangkai tumpeng, kegiatan untuk anak-anak, hingga lomba panjat pinang dengan hadiah menarik, termasuk logam mulia dan produk-produk budaya dari para sponsor.
Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak hari pertama. Sekitar 2.000 pengunjung tercatat keluar-masuk kawasan kegiatan.
Jumlah tersebut diperkirakan meningkat pada Minggu, 16 Agustus 2026, yang bertepatan dengan akhir pekan.
Kegiatan ini juga dirancang agar budaya dapat hadir secara inklusif.
Pengunjung dapat menikmati berbagai tenant, pameran fashion, kuliner, produk kesehatan, hingga kegiatan interaktif. Pengunjung yang melakukan transaksi belanja minimal Rp 150.000 juga berkesempatan mengikuti undian berhadiah, salah satunya berupa kain batik tulis senilai sekitar Rp 1 juta.
Merangkul Generasi Muda untuk Mencintai Budaya
Salah satu perhatian utama dalam rangkaian kegiatan ini adalah keterlibatan generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z.
Pada hari kedua, 16 Agustus, generasi muda akan diajak berdiskusi dan menggali alasan mereka terjun serta memiliki kepedulian terhadap dunia budaya.
Pertanyaan yang ingin dijawab bukan sekadar apakah anak muda mau melestarikan budaya, tetapi juga apa yang membuat mereka secara natural tertarik untuk mengenal, menggunakan, dan mengembangkan budaya Indonesia.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena pelestarian budaya tidak mungkin hanya dibebankan kepada generasi sebelumnya.
Budaya harus diwariskan sekaligus diberikan ruang untuk berkembang bersama generasi baru.
“Kita harus merangkul anak-anak muda agar mereka merasa budaya itu milik mereka juga. Jangan sampai wayang, batik, kain tradisional, dan kesenian Nusantara hanya dianggap sebagai sesuatu yang dimiliki orang-orang tua.”
Semangat tersebut juga tercermin melalui program “Fantastic! 55 Gaya, Satu Kain – Seni Memakai Kain”, yang digelar bekerja sama dengan Wdrupadi dan Benefit.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kecintaan dan pemahaman terhadap nilai wastra Nusantara, sekaligus memperkenalkan cara memakai kain agar terlihat anggun dalam berbagai kesempatan.
Peserta mendapatkan sejumlah manfaat, antara lain:
-Meningkatkan kecintaan dan pemahaman terhadap nilai Wastra Nusantara.
-Memahami cara memakai kain agar terlihat anggun di berbagai kesempatan.
-Setiap peserta mendapatkan satu kain batik untuk dibawa pulang.
-Meningkatkan rasa percaya diri dan kenyamanan dalam mengenakan kain.
Dari Jawa untuk Indonesia
Meskipun kegiatan budaya selama ini banyak berangkat dari tradisi Jawa, penyelenggara menegaskan bahwa kebudayaan Indonesia tidak boleh dipersempit hanya pada satu daerah.
“Indonesia bukan hanya Jawa. Ada Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan daerah-daerah lainnya. Semuanya harus masuk dan mendapatkan ruang.”
Karena itu, keberagaman menjadi salah satu pesan utama dalam pagelaran budaya ini. Busana, kain, kesenian, kuliner, cerita rakyat, hingga berbagai ekspresi budaya dari berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat hadir sebagai satu kesatuan identitas Nusantara.
Pada hari pertama, pengunjung juga akan disuguhi berbagai pertunjukan budaya. Salah satu agenda yang dinantikan adalah penampilan Desa Timur, seniman yang dikenal membawakan cerita wayang untuk anak-anak dan telah memiliki pengalaman tampil hingga Hollywood dan Eropa serta terlibat dalam program Kementerian Kebudayaan.
Sejumlah tokoh dan figur publik juga turut hadir dalam rangkaian kegiatan, di antaranya Anya Dwinov, serta sejumlah influencer yang memiliki perhatian terhadap budaya.
Pagelaran Budaya Terbesar Komunitas
Bagi komunitas penyelenggara, kegiatan 15–16 Agustus 2026 ini menjadi momentum penting karena merupakan event tahunan pertama dengan skala terbesar. Sebelumnya, berbagai kegiatan budaya lebih banyak dilakukan di markas komunitas di Rama Tama Restaurant.
Salah satu penggerak kegiatan, Ryan Maneka, yang dikenal di media sosial Ig dengan konten di Instagram dan tiktok dengan akun @bobabotakbatik sebagai Boba Botak bati sebagai penggiat Batik, merupakan pegiat sastra, batik, dan budaya yang telah aktif selama hampir sembilan tahun.
Sementara komunitas yang menaungi kegiatan tersebut baru dibentuk pada awal Januari 2026 bertempat di Ramatama Restaurant Jakarta Barat.
Menurut Ryan, memperkenalkan budaya kepada masyarakat harus dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mampu menarik minat generasi muda.
Baginya, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan budaya Indonesia tetap hidup, digunakan, dicintai, dan dikembangkan oleh generasi masa kini.
Melalui rangkaian kegiatan ini, penyelenggara berharap masyarakat semakin memahami bahwa merayakan kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang menentukan identitas Indonesia di masa depan.
Dan salah satu bentuk kemerdekaan itu adalah merdeka untuk mencintai, menggunakan, mengembangkan, dan membanggakan budaya sendiri.
Budaya Indonesia tidak cukup hanya dilestarikan. Budaya Indonesia harus dihidupkan kembali, terutama oleh generasi muda, agar benar-benar menjadi juara di negeri sendiri tambah Ryan Maneka Penggiat Batik & Wastra kepada Poskota Nasional .
