JAKARTA, Poskota Nasional
PT Barata Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri nasional melalui pengembangan dan produksi berbagai komponen untuk industri strategis, mulai dari perkapalan, perkeretaapian, hingga komponen hidromekanik dan alat berat.
Direktur Utama PT Barata Indonesia, Hertyoso Nursasongko, mengatakan perusahaan saat ini turut mendukung kebutuhan industri pertahanan dan perkapalan nasional, termasuk menjadi bagian dari rantai pasok pembangunan kapal fregat Merah Putih yang diproduksi oleh PT PAL Indonesia.

“Indonesia harus tetap fokus membuat produk-produk untuk industri dalam negeri. Komponen seperti yang kami tampilkan ini merupakan bagian dari dukungan kami kepada PT PAL untuk kapal yang dibuat oleh PT PAL, termasuk yang terakhir kapal fregat Merah Putih,” ujar Hertyoso Nursasongko saat ditemui Poskota Nasional.com dalam pameran Indo Machinery di JIExpo, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, pembangunan fregat Merah Putih di Indonesia saat ini memiliki kontrak sebanyak dua unit. Satu unit telah selesai, sementara unit lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Selain industri perkapalan, Barata Indonesia juga terus memasok komponen untuk industri perkeretaapian nasional.
Bahkan, sejumlah produk perusahaan telah memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 100 persen dan digunakan oleh PT Industri Kereta Api (INKA), sekaligus dipasarkan untuk kebutuhan ekspor.
Salah satu produk unggulan yang ditampilkan adalah komponen sambungan antar-gerbong kereta api.
Produk tersebut telah memiliki TKDN 100 persen dan menjadi bagian dari upaya Barata meningkatkan penggunaan produk industri nasional.
“Ini sambungan antar-gerbong, 100 persen TKDN. Produk ini digunakan oleh INKA dan juga kami ekspor. Produk lainnya seperti bracket juga 100 persen TKDN,” jelas Hertyoso.
Di pasar ekspor, Barata Indonesia juga mencatat aktivitas pengiriman yang rutin, khususnya ke Amerika Serikat. Perusahaan disebut melakukan ekspor sekitar 6-10 kontainer per minggu, menunjukkan kemampuan industri nasional untuk bersaing di pasar global.
Perluas Kolaborasi Antarindustri
Hertyoso Nursasongko , menambahkan, keikutsertaan Barata Indonesia dalam pameran Indo Machinery tidak hanya bertujuan memperkenalkan kembali lini produk perusahaan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan sesama industri nasional.
Kegiatan business matching yang difasilitasi Kementerian Perindustrian menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan Barata dengan produsen dalam negeri dari berbagai sektor.
“Bagaimana kami yang memproduksi komponen berat bisa bertemu dengan asosiasi industri alat berat, kemudian bertemu dengan ahli pengecoran logam dan berbagai jenis industri lainnya. Apa yang bisa mereka buat, mungkin kami bisa siapkan. Begitu juga sebaliknya,” katanya.
Barata juga membuka peluang kerja sama dalam penyediaan komponen untuk sektor infrastruktur, termasuk bendungan dan pembangkit listrik tenaga air.
Perusahaan memiliki lini produksi hidromekanik, seperti pintu air bendungan, pipa, serta berbagai komponen pendukung lainnya.
Menurut Hertyoso, pengembangan produk hidromekanik dapat diarahkan untuk meningkatkan efisiensi berbagai fasilitas infrastruktur dan pembangkit, sekaligus memperbesar peran industri nasional dalam rantai pasok proyek strategis.
Minta Keberpihakan Pemerintah
Di tengah persaingan dengan produk impor,
Hertyoso
Nursasongko , berharap pemerintah memberikan keberpihakan yang lebih kuat kepada industri dalam negeri, terutama dalam pengadaan barang dan jasa yang menggunakan anggaran negara.
Ia menilai industri nasional menghadapi persaingan berat dengan negara-negara yang memiliki kapasitas ekonomi dan teknologi lebih besar.
Produk impor dapat masuk dengan harga kompetitif, sementara sejumlah negara juga memberikan dukungan dan proteksi terhadap industrinya.
“Harapan saya ada keberpihakan dari pemerintah. Untuk pengadaan-pengadaan yang menggunakan dana pemerintah atau dana negara, bisa memilih perusahaan atau produk-produk yang TKDN-nya tinggi,” tegasnya.
Menurut Hertyoso, keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar persoalan bisnis, tetapi merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem industri nasional yang kuat dan berkelanjutan.
“Harapannya industri Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” pungkasnya.
