Jakarta, Poskota Nasional
Perkembangan teknologi drone di Indonesia semakin mendapat perhatian seiring dengan dorongan pemerintah terhadap program swasembada pangan. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan industri drone dalam negeri, khususnya drone pertanian yang dapat mendukung efisiensi dan produktivitas sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan Suhendi, perwakilan Skyguard Indonesia (skyguard.id), perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan produksi drone, saat ditemui dalam pameran IDEA di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Suhendi, meningkatnya kebutuhan teknologi drone untuk pertanian turut menarik minat investor dan perusahaan asal China untuk membangun kerja sama joint venture maupun kemitraan dengan perusahaan lokal di Indonesia.
Model kerja sama tersebut dinilai dapat mempercepat terbentuknya ekosistem industri drone sekaligus meningkatkan kandungan lokal atau TKDN.
“Sekarang banyak investor dan perusahaan China yang berlomba untuk masuk dan membangun perusahaan di Indonesia melalui joint venture dengan local partnership. Salah satu yang banyak dikembangkan adalah drone untuk pertanian,” ujar Suhendi.
Skyguard Indonesia sendiri saat ini berfokus mengembangkan kemampuan local supply chain, termasuk produksi komponen dan penyediaan spare part drone di Indonesia.
Menurut Suhendi, keberadaan produksi dan dukungan teknis lokal menjadi salah satu keunggulan penting bagi konsumen.
Dengan dukungan lokal, konsumen tidak perlu terlalu bergantung pada pengiriman komponen dari China apabila terjadi kerusakan atau membutuhkan penggantian suku cadang.
Skyguard juga memberikan garansi satu tahun, dukungan teknis, after-sales service, serta pelatihan penggunaan produk selama sekitar 35 jam.
“Kalau sudah lokal di Indonesia, spare part lebih mudah, koordinasi juga lebih cepat.
Kami juga memberikan garansi satu tahun, technical support, after-sales service, dan training cara penggunaannya,” jelasnya.
Skyguard saat ini memfokuskan pengembangan pada beberapa segmen, terutama drone pertanian, drone cargo, serta drone FPV interceptor.
Untuk drone pertanian, produk yang ditawarkan memiliki kapasitas berbeda sesuai kebutuhan konsumen.
Salah satunya adalah drone pertanian HV30 dengan kapasitas sekitar 30 liter yang berada di kisaran harga Rp200 juta per unit. Sementara drone berkapasitas 50 liter berada di kisaran Rp 300 juta per unit.
Secara umum, harga drone yang dikembangkan Skyguard dapat berada pada rentang sekitar Rp 500 juta hingga Rp1 miliar, tergantung kapasitas dan spesifikasi yang dibutuhkan.
“Beda tipe tentu beda harga. Untuk drone pertanian HV30 sekitar Rp200 jutaan, sedangkan kapasitas 50 liter sekitar Rp300 jutaan per unit. Semuanya tergantung kapasitas dan kebutuhan konsumen,” kata Suhendi.
Dalam pengembangan produksi, Skyguard juga terus mencari dan menggandeng pemasok lokal untuk berbagai komponen.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri sekaligus menekan biaya produksi.
Suhendi mengibaratkan strategi tersebut seperti industri otomotif yang membangun jaringan pemasok komponen di dalam negeri.
Menurutnya, semakin banyak komponen yang dapat diproduksi secara lokal, semakin kuat pula ekosistem industri drone Indonesia.
Saat ini kapasitas produksi Skyguard masih dalam tahap pengembangan dan sekitar 10 unit per bulan, sembari perusahaan melakukan penyempurnaan formulasi produksi serta rantai pasok agar kapasitas dapat ditingkatkan secara bertahap.
Selain pengembangan produk, Skyguard juga tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan teknologi drone di sektor pertanian.
Suhendi menilai tantangan terbesar dalam pengembangan industri drone nasional bukan hanya dari sisi teknologi dan produksi, tetapi juga regulasi.
Ia berharap pemerintah dapat terus menyempurnakan sekaligus memberikan ruang regulasi yang lebih jelas dan mendukung perkembangan teknologi drone di Indonesia.
“Harapan kami dari pameran ini, semakin banyak lembaga dan pemerintah Indonesia yang memberikan ruang serta memperjelas regulasi untuk teknologi drone, sehingga teknologi ini semakin dikenal dan dapat digunakan masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, industri drone di Indonesia masih relatif muda sehingga membutuhkan proses pematangan regulasi agar perkembangan teknologi dapat berjalan seiring dengan aspek keselamatan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.
Suhendi sendiri terlibat dalam berbagai aspek pengembangan teknologi di Skyguard, termasuk bidang administrasi, robotik, dan desain.
Dalam pengembangan teknologi perusahaan, Skyguard juga didukung oleh tenaga ahli di bidang satelit.
Dengan meningkatnya kebutuhan teknologi untuk mendukung swasembada pangan, Skyguard Indonesia melihat drone pertanian bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan bagian dari ekosistem pertanian modern yang dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja di lapangan sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri manufaktur dan rantai pasok drone di dalam negeri.
Skyguard Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi drone dan pengembangan solusi perlindungan udara.
Perusahaan mengembangkan dan menyediakan solusi drone untuk berbagai kebutuhan, dengan fokus antara lain pada sektor pertanian, cargo, komponen, spare part, serta teknologi pendukung lainnya.
