Jakarta, Poskota Nasional
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas produk, daya beli masyarakat, dan keberlangsungan pasokan pangan di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku kemasan yang dalam beberapa waktu terakhir mencapai hingga 60 persen.
Wakil Ketua Umum GAPMMI, Irwan Wijaya, mengatakan bahwa industri makanan dan minuman saat ini masih mampu mengendalikan kenaikan biaya pada sebagian besar bahan baku produksi.
Namun, lonjakan harga kemasan menjadi tantangan yang jauh lebih berat karena terjadi secara signifikan dan dalam waktu relatif singkat.
“Untuk bahan baku produk, industri masih memiliki ruang untuk melakukan pengelolaan biaya.
Namun, kenaikan harga kemasan yang mencapai hingga 60 persen memberikan tekanan yang sangat besar terhadap biaya produksi,” ujar Irwan.
Menghadapi kondisi tersebut, GAPMMI bersama para pelaku industri terus mencari berbagai alternatif solusi, termasuk menjajaki penggunaan bahan baku kemasan yang berbeda dan lebih efisien.
Upaya ini dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah asosiasi dan pelaku industri kemasan guna menemukan substitusi yang tetap memenuhi standar kualitas dan keamanan produk.
Menurut Irwan, setiap perubahan bahan baku kemasan harus melalui proses evaluasi yang ketat. Industri perlu memastikan bahwa material alternatif tidak memengaruhi kualitas produk, masa simpan, maupun keamanan pangan.
Karena itu, berbagai tahapan pengujian, termasuk uji laboratorium dan verifikasi teknis lainnya, tetap menjadi perhatian utama sebelum implementasi dilakukan secara luas.
Dalam menghadapi tekanan biaya yang ada, GAPMMI menekankan bahwa industri tetap berpegang pada empat prinsip utama, yaitu:
Menjaga kualitas dan nilai nutrisi produk bagi konsumen.
Menjaga keterjangkauan harga dan daya beli masyarakat.
Menjamin ketersediaan produk di pasar.
Memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
“Sebagai pelaku industri makanan dan minuman, kami harus memastikan empat hal tersebut tetap terjaga. Karena itu, langkah yang kami tempuh adalah bertahan sambil terus melakukan inovasi dan kreativitas untuk mencari solusi terbaik,” jelas Irwan.
GAPMMI memperkirakan industri masih dapat melakukan berbagai strategi penyesuaian dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Namun, apabila tekanan harga kemasan terus berlanjut, diperlukan inovasi yang lebih luas, termasuk optimalisasi ukuran, desain, dan jenis kemasan tanpa mengurangi manfaat produk bagi konsumen.
“Kami berupaya agar konsumen tetap dapat menikmati produk dengan kualitas yang sama.
Karena itu, inovasi menjadi kunci agar industri tetap bertahan sekaligus menjaga akses masyarakat terhadap produk makanan dan minuman yang dibutuhkan,” tutur Irwan.
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia merupakan organisasi yang mewadahi pelaku usaha makanan dan minuman di Indonesia serta berkomitmen mendukung pertumbuhan industri yang berkelanjutan, kompetitif, dan berorientasi pada kebutuhan konsumen , tambah Irwan Widjaya Wakil Ketua umum GAPMMI kepada Poskota Nasional
