Jakarta Poskota Nasional
Industri tekstil dan produk fashion muslim Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem halal global. Dengan jumlah populasi muslim yang besar, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama, tidak hanya dari sisi pasar domestik tetapi juga sebagai produsen produk halal berkelas dunia.
Hal tersebut disampaikan oleh Lukas Prawoto direktur PT Prima Fara di Surabaya , produsen sarung Gajah Duduk, saat ditemui media dalam rangkaian Seminar Nasional pada pameran Indo Intertex dan Inatex di JIExpo Kemayoran, Jakarta, kamis (16/4/2026).
Menurut Lukas, tren konsumen saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Produk tidak lagi dinilai semata dari harga dan desain, tetapi juga dari aspek etika, nilai, serta transparansi proses produksi.
‘ Konsumen, termasuk non-muslim, kini semakin peduli terhadap produk yang beretika, dapat ditelusuri asal-usulnya, dan diproduksi sesuai nilai-nilai tertentu, termasuk halal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sertifikasi halal kini bukan lagi sekadar kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi bagian dari branding yang meningkatkan kepercayaan pasar.
Bahkan, ke depan, sistem ketertelusuran produk halal diperkirakan akan semakin terintegrasi dengan teknologi, sehingga konsumen dapat dengan mudah memastikan status halal suatu produk.
Meski peluang terbuka lebar, pelaku industri masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait bahan baku. Ketergantungan terhadap impor bahan baku tekstil dan bahan kimia masih cukup tinggi.
Dalam dua minggu terakhir, tercatat kenaikan harga bahan baku hingga 30% menjadi 42%, sementara bahan kimia mengalami kenaikan sekitar 20%.
‘ Kondisi ini menjadi dilema bagi pelaku usaha. Jika harga dinaikkan, daya beli masyarakat berpotensi turun, apalagi menjelang periode kebutuhan tinggi seperti tahun ajaran baru. Namun jika tidak dinaikkan, biaya produksi terus membengkak,” jelas Lukas.
Ia juga menyoroti perlunya perhatian pemerintah yang tidak hanya berfokus pada sektor yang terlihat langsung oleh masyarakat, tetapi juga pada sektor hulu seperti bahan baku tekstil. Dukungan kebijakan yang lebih menyeluruh dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri.
Di sisi lain, pemerintah disebut telah menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan industri halal, termasuk melalui penguatan regulasi dan kelembagaan.
Indonesia bahkan mulai diakui sebagai salah satu role model dalam pengembangan ekosistem halal global.
Sebagai langkah strategis, pelaku industri mendorong adanya pembatasan atau pengendalian pada aspek yang belum dapat dijangkau sepenuhnya, sambil memastikan bahwa proses produksi dalam negeri sudah memenuhi standar halal secara bertahap. Hal ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri tekstil nasional di pasar global.
Dengan target implementasi penuh ekosistem halal dalam waktu dekat, pelaku industri menegaskan bahwa kesiapan harus terus dibangun.
“Siap atau tidak, kita harus jalan. Ini bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk masa depan industri,” tambah Lukas Prawito kepada Poskota nasional
