Bekasi ,Poskota Nasional
Primaya Hospital Bekasi Barat Perkenalkan Pendekatan Modern Operasi Bypass Jantung dengan Teknik Minim Invasif
Perkembangan teknologi kedokteran terus mendorong layanan kesehatan jantung menjadi semakin aman, efektif, dan berorientasi pada pemulihan pasien. Salah satu inovasi yang kini semakin berkembang adalah Minimally Invasive Cardiac Surgery–Coronary Artery Bypass Grafting (MICS-CABG), yaitu operasi bypass pembuluh darah jantung dengan sayatan yang lebih minimal dibandingkan teknik operasi konvensional.

Teknologi dan pendekatan tersebut menjadi salah satu topik utama dalam seminar medis bertema “MICS CABG: A Modern Approach to Coronary Artery Bypass Surgery” yang diselenggarakan Primaya Hospital Bekasi Barat, Sabtu, 5 September 2026, di Auditorium Lantai 7.
Seminar menghadirkan sejumlah dokter spesialis dan subspesialis yang membahas berbagai aspek dalam penanganan penyakit jantung koroner, mulai dari pemilihan pasien, teknik pembedahan, anestesi, hingga strategi mempercepat proses pemulihan setelah operasi.
Hadir Kabid Pelayanan dan Penunjang Medik dr Rahel Kristianingrum , dihadiri memberikan sambutan Pak Yadi sebagai Manager Marketing Primaya Hospital Bekasi Barat , Hadir sebagai narasumber DR. dr. Amin Tjubandi, Sp.BTKB, Subsp.JD (K), dr. Kevin Moses Hanky Jr. Tandayu, Sp.JP (K), FIHA, dan dr. Hanhan Djuhana, Sp.An-TI, Subsp.An.Kv (K), dengan dr. Nurima Ulya Dwita, Sp.BTKV sebagai moderator.

MICS-CABG, Alternatif Modern dalam Operasi Bypass Jantung
Dalam seminar tersebut, para narasumber menjelaskan bahwa MICS-CABG menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan operasi bypass jantung konvensional pada pasien yang sesuai.
Dengan pendekatan minim invasif, tindakan dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat berupa trauma jaringan yang lebih minimal, kebutuhan transfusi darah yang lebih rendah, hasil kosmetik yang lebih baik, serta pemulihan dan mobilisasi pasien yang lebih cepat.
Namun demikian, teknik MICS-CABG bukan berarti dapat diterapkan secara sama pada seluruh pasien.


” Dalam menentukan apakah pasien harus menjalani bypass atau tidak, kita harus menilai pasien per pasien karena kondisinya berbeda. Keputusan idealnya dilakukan melalui keputusan bersama tim kardiovaskular, dengan mempertimbangkan tingkat kompleksitas penyempitan pembuluh darah serta kondisi penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal, maupun penyakit paru,” ujar dr. Kevin Moses Hanky Jr. Tandayu, Sp.JP (K), FIHA.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan ketepatan dalam memilih pasien dan mempertimbangkan manfaat serta risiko tindakan.
Bukan Sekadar Sayatan Lebih Kecil, tetapi Mempercepat Pemulihan
Aspek pemulihan pasien menjadi perhatian penting dalam penerapan pendekatan minimal invasif.
dr. Hanhan Djuhana, Sp.An-TI, Subsp.An.Kv (K) menjelaskan bahwa keberhasilan MICS-CABG tidak hanya bergantung pada teknik pembedahan, tetapi juga membutuhkan kolaborasi seluruh tim medis sejak pasien dipersiapkan hingga menjalani masa pemulihan.
Pendekatan tersebut dapat dipadukan dengan konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS), sehingga alur pelayanan pasien dirancang untuk mendukung mobilisasi dan pemulihan yang lebih cepat.
“Kalau targetnya adalah pemulihan yang cepat, maka seluruh proses dari hulu sampai hilir harus mendukung tujuan tersebut. Tim anestesi juga memiliki kontribusi melalui penerapan teknik-teknik tertentu agar pasien dapat lebih cepat pulih dan melakukan mobilisasi,” jelas dr. Hanhan.
Dalam kondisi tanpa komplikasi, pasien yang menjalani operasi jantung dengan pendekatan yang tepat diharapkan dapat mulai melakukan mobilisasi lebih dini.
Secara umum, pasien dapat kembali secara bertahap ke aktivitas sehari-hari dalam beberapa minggu, dengan tetap mengikuti evaluasi dan anjuran dokter.
Pemilihan Teknik Harus Berdasarkan Kondisi Pasien
Sementara itu, DR. dr. Amin Tjubandi, Sp.BTKB, Subsp.JD (K) menekankan bahwa teknik minimal invasif bukanlah pengganti mutlak bagi operasi bypass konvensional.
Setiap pasien memiliki karakteristik anatomi pembuluh darah, tingkat penyumbatan, penyakit penyerta, dan risiko operasi yang berbeda. Karena itu, dokter perlu menentukan pendekatan terbaik berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
” Tidak semua pasien dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Kita harus melihat kompleksitas penyakitnya dan menentukan tindakan yang paling memberikan manfaat bagi pasien,” menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan seminar.
Pendekatan ini juga menegaskan pentingnya Heart Team, yaitu kolaborasi multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis jantung, dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, dokter anestesi, serta tenaga kesehatan terkait untuk menentukan strategi terapi yang paling tepat.
Meningkatkan Literasi Masyarakat tentang Penyakit Jantung
Selain membahas perkembangan teknik operasi, seminar ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penanganan penyakit jantung koroner secara tepat.
Penyumbatan pembuluh darah jantung, khususnya yang bersifat akut dan dapat memicu serangan jantung, membutuhkan penanganan segera.
Semakin cepat aliran darah ke otot jantung dipulihkan pada kondisi yang membutuhkan tindakan emergensi, semakin besar peluang untuk mengurangi kerusakan otot jantung.
Karena itu, masyarakat diharapkan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung dan tidak mudah percaya pada informasi kesehatan yang belum terbukti secara medis.
Primaya Hospital Bekasi Barat Perkuat Layanan Jantung Terintegrasi
Melalui seminar “MICS CABG: A Modern Approach to Coronary Artery Bypass Surgery”, Primaya Hospital Bekasi Barat menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi tenaga medis sekaligus memperkenalkan perkembangan teknologi dan pendekatan modern dalam pelayanan kardiovaskular.
Kemajuan layanan jantung tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan tim medis dalam memilih terapi yang tepat, melakukan tindakan dengan standar keselamatan yang tinggi, serta memastikan pasien mendapatkan proses pemulihan yang optimal.
Dengan berkembangnya pendekatan seperti MICS-CABG, pilihan terapi bagi pasien penyakit jantung koroner semakin beragam.
Namun, keputusan mengenai tindakan tetap harus dilakukan secara individual melalui evaluasi menyeluruh dan kolaborasi tim medis.
Pesan utama seminar ini jelas: teknologi semakin maju, tetapi keselamatan dan kebutuhan pasien tetap menjadi prioritas utama.
