Jakarta, Poskota Nasional
Dalam suasana hangat penuh nostalgia dan refleksi, peluncuran buku “Dari Loyang Jadi Emas” karya Sahat M. Sinaga yang digelar di Hotel Westin menjadi momentum penting bagi para alumni Teknik Kimia angkatan ‘63. Acara ini turut dihadiri oleh Martiono, mantan Direktur Utama Pertamina, bersama rekan-rekan seangkatannya.
Dalam kesempatan tersebut, Martiono menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kemampuan mengembangkan ilmu dasar menjadi inovasi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa tidak banyak individu yang mampu melampaui sekadar pemahaman teori untuk kemudian menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dan relevan.
“Ilmu dasar seperti teknik kimia seharusnya tidak berhenti pada pemahaman saja.
Tantangannya adalah bagaimana kita mengolah pengetahuan itu menjadi solusi yang bernilai,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perbedaan mencolok antara sistem pendidikan di Indonesia dengan negara maju.
Menurutnya, sistem pendidikan nasional masih cenderung membentuk lulusan sebagai pelaksana, bukan inovator.
Hal ini berdampak pada rendahnya jumlah individu yang mampu melakukan terobosan berbasis ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, Martiono mengajak generasi muda untuk memahami akar sejarah bangsa, khususnya terkait akses pendidikan di masa kolonial.
Ia menjelaskan bahwa pada masa penjajahan, kesempatan belajar hanya diberikan kepada kelompok tertentu, sementara rakyat kebanyakan tidak memiliki akses yang sama. Warisan struktur sosial ini, menurutnya, masih menyisakan dampak hingga saat ini.
” Kalau kita tidak memahami latar belakang sejarah, kita akan mudah memberikan penilaian yang keliru. Padahal, banyak faktor yang membentuk kondisi pendidikan kita hari ini,” tambahnya.
Ia juga mengkritisi kecenderungan komersialisasi dalam berbagai aspek, termasuk pendidikan, yang dapat mengaburkan tujuan utama pembelajaran sebagai sarana mencerdaskan dan memajukan bangsa.
Menutup pernyataannya, Martiono menegaskan bahwa kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kekuatan riset.
Ia berharap generasi penerus dapat menjadikan hal ini sebagai inspirasi untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga ruang berbagi gagasan dan refleksi lintas generasi mengenai masa depan pendidikan dan inovasi di Indonesia.
