Jakarta, Poskota Nasional
Di tengah tantangan berat yang masih dihadapi industri tekstil nasional pasca pandemi dan tekanan impor, pelaku industri dalam negeri mulai menunjukkan optimisme untuk bangkit. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif perusahaan mesin tekstil lokal dalam ajang pameran Indo Intertex dan Inatex yang digelar di JIExpo Kemayoran.
Salah satu pelaku industri yang turut ambil bagian adalah KYO Technology bersama Prakarsa Setia Kain Jaya Makmur, perusahaan asal Bandung yang telah berdiri sejak tahun 1999 dan fokus pada produksi mesin inspeksi kain (fabric inspecting machine).
Direktur Prakarsa Setia Kain Jaya Makmur, Anton Halim, menjelaskan bahwa perusahaannya telah lama menjadi mitra berbagai pabrik tekstil di Indonesia dengan menyediakan mesin inspeksi kain berkualitas dan harga yang kompetitif.
“Kami memproduksi mesin inspeksi kain yang dapat digunakan untuk berbagai jenis kain, dengan kualitas yang dapat diandalkan. Hampir semua pabrik tekstil di Indonesia sudah menggunakan mesin inspeksi,” ujarnya.
Keunggulan utama dari sistem yang ditawarkan adalah integrasi teknologi digital yang menggantikan pencatatan manual.
Sistem ini memungkinkan pengukuran panjang kain secara otomatis, pencatatan cacat kain, hingga perhitungan net dan gross secara langsung.
Direktur KYO Technology, Budi Santoso, menambahkan bahwa sistem yang dikembangkan juga dilengkapi dengan fitur pencetakan barcode, sehingga mempermudah proses identifikasi dan pelacakan produk.
“Dengan sistem komputerisasi ini, proses menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien.
Data bisa langsung diperoleh tanpa harus ditulis manual,” jelasnya.
Untuk satu paket sistem lengkap, harga yang ditawarkan berada di kisaran Rp 30 juta per unit, tergantung jumlah pemesanan. Perusahaan juga membuka peluang diskon untuk pembelian dalam jumlah besar.
Meski demikian, Anton mengakui bahwa kondisi industri tekstil saat ini masih belum sepenuhnya pulih.
Dampak pandemi COVID-19 sejak 2019 hingga 2023, ditambah dengan maraknya impor ilegal sebelumnya, sempat membuat banyak pabrik menghentikan operasional.
” Sekarang kondisi mulai membaik, terutama setelah penertiban impor ilegal. Kami berharap industri tekstil bisa kembali normal sehingga permintaan mesin juga meningkat,” katanya.
Selain itu, kenaikan harga bahan baku akibat dinamika global juga membuat banyak pabrik menunda investasi.
Namun, kebutuhan akan efisiensi menjadi peluang tersendiri bagi solusi teknologi yang ditawarkan.
“Efisiensi adalah kunci bertahan. Dengan sistem ini, pabrik bisa mengoptimalkan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas,” tambah Budi.
Ke depan, KYO Technology berencana terus mengembangkan sistem yang lebih canggih dan terintegrasi guna menjawab kebutuhan industri tekstil modern yang semakin kompetitif.
Dengan semangat inovasi dan optimisme, pelaku industri mesin tekstil lokal berharap dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam kebangkitan industri tekstil nasional
