JAKARTA, Poskota Nasional
Perubahan iklim tidak cukup hanya dibicarakan dalam bahasa emisi, target penurunan suhu, maupun komitmen global.
Tantangan terbesar justru bagaimana isu perubahan iklim dapat dipahami masyarakat dan diterjemahkan menjadi aksi nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut mengemuka dalam Climate Talk Episode #1 bertema “Iklim Indonesia Kini, Dulu & Masa Depan: Menerjemahkan Komitmen Global Menjadi Aksi Lokal yang Membumi”, yang digelar Selasa (8/9/2026) di Café Greyhound, Menteng, Jakarta.
Dalam forum tersebut, Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia sekaligus penggerak inisiatif di Amanah Daya Nusantara, menyampaikan pentingnya membangun satu narasi bersama di antara aktor-aktor nonpemerintah dalam menghadapi krisis iklim.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar melalui tokoh dan pemimpin agama.
Kepercayaan masyarakat terhadap tokoh agama, terutama di tingkat daerah, dapat menjadi kekuatan penting untuk mendorong kesadaran sekaligus aksi iklim yang relevan dengan realitas kehidupan masyarakat.
“Kita ingin menyatukan dulu pandangan dari aktor-aktor nonpemerintah, sehingga mereka memiliki narasi yang sama dan satu tujuan dalam aksi iklim.”
Memperkuat Aksi Iklim melalui Lintas Iman
Amanah Daya Nusantara baru-baru ini meluncurkan Aksi Iklim Lintas Iman pada 27 Juli 2026, yang melibatkan enam agama di Indonesia. Inisiatif ini dikembangkan dengan keyakinan bahwa agama memiliki nilai-nilai universal yang dapat menjadi jembatan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui kolaborasi lintas iman, para pemimpin agama diharapkan dapat menyuarakan aksi iklim dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya dari perspektif teologi, tetapi juga dengan mempertimbangkan dimensi ekonomi dan ekologi.
“Kalau kita bisa mengajak pemimpin agama dan tokoh-tokoh agama bekerja bersama untuk menyuarakan aksi iklim yang sesuai dengan realitas hidup masyarakat, mulai dari ekonominya, ekologinya, dan akhirnya dari sisi teologinya, kita bisa membangun kebersamaan,” ujar Rizal.
Pendekatan ini juga dinilai penting untuk menghadirkan narasi positif di tengah derasnya informasi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurut Rizal, kolaborasi lintas iman dalam aksi iklim dapat menjadi simbol bahwa masyarakat dengan latar belakang keyakinan berbeda tetap dapat bersatu dalam menghadapi persoalan bersama.
“Ada nilai-nilai universal yang kita miliki. Nilai yang melarang kerusakan lingkungan dan mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan kepada kita. Kalau ini bisa kita jalankan bersama, akan muncul harapan.”
Harapan tersebut, lanjutnya, bukan hanya penting bagi generasi saat ini, tetapi juga bagi anak-anak dan generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya pemberitaan mengenai berbagai persoalan dan krisis.
Menerjemahkan Bahasa Iklim agar Dipahami Masyarakat
Salah satu tantangan utama dalam membangun gerakan aksi iklim adalah bahasa perubahan iklim yang kerap dianggap terlalu teknis dan jauh dari kehidupan masyarakat.
Istilah seperti emisi, kenaikan suhu global, maupun target 1,5 derajat Celsius belum tentu mudah dipahami masyarakat dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
“Banyak masyarakat tidak mengerti apa itu emisi. Kenapa harus mempertahankan suhu 1,5 derajat? Kalau kita berada di ruangan ber-AC dan suhu dinaikkan atau diturunkan satu derajat, mungkin tidak terasa. Lalu apa masalahnya kalau lebih dari 1,5 derajat?” jelas Rizal.
Karena itu, menurutnya, gerakan aksi iklim perlu terlebih dahulu membangun pemahaman yang sederhana dan membumi sebelum masuk pada agenda yang lebih kompleks.
“Kita harus membuat masyarakat mengerti dulu, baru kemudian kita visualisasikan dan terjemahkan menjadi aksi.”
Upaya membangun pemahaman tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, media, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan jaringan filantropi.
Mempersiapkan Dai dan Pemuka Agama sebagai Penggerak Aksi Iklim
Dalam waktu dekat, Aksi Iklim Lintas Iman akan memasuki tahap penguatan kapasitas melalui pelatihan bagi para dai, ustaz, pendeta, romo, dan penceramah lintas iman.
Pelatihan tersebut dirancang bukan untuk mengajarkan kembali aspek teologi yang telah dikuasai para pemuka agama, melainkan untuk memperkaya pemahaman mereka mengenai dimensi ekologi dan ekonomi, sehingga ketiganya dapat diintegrasikan dalam pesan-pesan keagamaan.
“Dari sisi teologi mereka sudah menguasai. Yang ingin kita integrasikan adalah sisi ekologi dan ekonomi.
Bagaimana memahami sesuatu yang rusak, bagaimana ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan, kemudian bagaimana dampaknya terhadap ekologi, dan akhirnya bagaimana semua itu diintegrasikan dengan teologi,” kata Rizal.
Kurikulum pelatihan tersebut saat ini sedang dipersiapkan untuk kemudian digunakan dalam peningkatan kapasitas para pemuka agama lintas iman.
Filantropi sebagai Kekuatan Kolaborasi
Inisiatif ini juga mendapatkan dukungan dari ekosistem filantropi Indonesia yang memiliki jaringan luas dalam isu lingkungan.
Saat ini terdapat lebih dari 70 organisasi yang tergabung dalam Cluster Filantropi untuk Lingkungan.
Jaringan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mempertemukan berbagai inisiatif, sumber daya, pengetahuan, dan praktik baik dalam aksi iklim di Indonesia.
Climate Talk Episode #1 menjadi ruang awal untuk mempertemukan berbagai perspektif dan membangun kesamaan narasi mengenai perubahan iklim—sebelum memperluas kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Rizal menegaskan bahwa kolaborasi tersebut perlu dibangun secara bertahap.
“Kita lebih ingin menyatukan dulu pandangan dari aktor-aktor nonpemerintah.
Mereka harus punya narasi yang sama, satu tujuan. Setelah itu, tentu kita akan datang dan berbicara dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan media.”
Ke depan, kolaborasi lintas sektor dan lintas iman diharapkan dapat menghadirkan aksi iklim yang tidak berhenti pada komitmen, tetapi benar-benar dipahami, diterima, dan dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, aksi iklim bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, tetapi juga tentang membangun ekonomi yang berkelanjutan, memperkuat solidaritas sosial, merawat keberagaman, serta menghadirkan harapan bagi generasi mendatang.
