Jakarta , Poskota Nasional
Berawal dari keinginan mengisi masa pensiun dengan kegiatan produktif, Hermono K.S., owner Keripik Pisang Blessing asal Campang Gisting, Kabupaten Tanggamus, Lampung, justru berhasil membawa produk pangan khas Lampung menembus pasar internasional.
Kisah tersebut disampaikan Hermono , K.S ,saat ditemui dalam ajang Apkasi Otonomi Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (28/8/2026).
Hermono menuturkan, usaha Keripik Pisang Blessing dirintis tanpa pengalaman sebelumnya di bidang usaha makanan. Berawal dari masa pensiun pada 2021, ia bersama keluarga mencoba memanfaatkan waktu dengan membuat dan mengembangkan produk olahan pisang.

“Awalnya karena sindrom pensiun. Tidak ada kegiatan, kemudian coba-coba. Dari situ berjalan sampai akhirnya produk kami bisa dikirim ke Kairo, Mesir,” ujar Hermono.
Menurutnya, perjalanan usaha tersebut membutuhkan proses panjang. Produk yang awalnya hanya dipasarkan secara lokal kemudian berkembang melalui kemitraan, berbagai pameran, serta dukungan dari pemerintah dan sejumlah pihak lainnya.
Sejak 2025, Keripik Pisang Blessing mulai mendapat pasar di luar negeri, termasuk Kairo, Mesir. Selain pasar ekspor, produk tersebut juga terus memperkuat pasar domestik, khususnya melalui jaringan outlet dan kemitraan di wilayah Jabodetabek dan Lampung.
Keripik Pisang Blessing hadir dengan sejumlah varian rasa dan pilihan kemasan. Sedikitnya terdapat tujuh varian rasa, antara lain original, cokelat, keju, kopi, balado, dan varian rasa lainnya, dengan ukuran serta kemasan yang beragam.
Harga produk juga disesuaikan dengan jenis kemasan dan isinya, mulai dari sekitar Rp16.500 hingga Rp25.000. Dengan variasi tersebut, produk dapat menjangkau berbagai segmen konsumen.
Hermono melihat keripik pisang bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga bagian dari identitas dan potensi ekonomi Lampung.
“Keripik pisang itu ikon Lampung. Kalau orang menyebut Lampung, yang terkenal salah satunya kopi dan keripik pisang,” katanya.
Ia berharap pengembangan produk UMKM seperti Keripik Pisang Blessing dapat terus mendapat dukungan, baik melalui akses permodalan, pelatihan, promosi, pameran, maupun pendampingan usaha.
Menurut Hermono, pola kemitraan juga menjadi salah satu cara untuk memperluas usaha sekaligus memberikan manfaat bagi para mitra.
“Kalau kemitraan kita juga ingin mitra mereka terangkat namanya. Kita dukung dengan fasilitas dan pendampingan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah maupun berbagai pihak yang telah memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya dalam berbagai kegiatan dan pameran.
Hermono menilai pameran seperti Apkasi Otonomi Expo memiliki arti penting bagi pelaku UMKM karena membuka peluang memperluas jaringan bisnis, bertemu calon mitra, sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah kepada pasar yang lebih luas.
Bagi Hermono, perjalanan Keripik Pisang Blessing menjadi bukti bahwa keterbatasan pengalaman bukanlah penghalang untuk memulai usaha.
Dengan kemauan belajar, konsistensi, kemitraan, dan dukungan berbagai pihak, produk UMKM daerah memiliki peluang untuk berkembang hingga pasar internasional.
“Kami ingin terus berkembang dan memperluas kemitraan.
Harapannya, keripik pisang Lampung semakin dikenal, bukan hanya di pasar lokal, tetapi juga di pasar internasional,” pungkasnya.
