Bekasi Barat, Poskota Nasional
Mie menjadi salah satu makanan yang cukup digemari masyarakat, termasuk anak-anak. Rasanya yang praktis dan mudah disajikan membuat mie kerap menjadi pilihan makanan sehari-hari.
Namun, apakah mie benar-benar tidak baik untuk anak?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Seminar Anak bertajuk “Benarkah Mie Tidak Baik untuk Anak?” yang diselenggarakan oleh Primaya Hospital Bekasi Barat, Sabtu (22/8/2026), bertempat di Lobby Utama Metropolitan Mal Kota Bekasi.

TalkShow menghadirkan dr Bunga Sukmapermata,Sp.A, Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Barat sebagai pembicara pertama ,dr Davie Muhamad, Sp.GK-AIFO ( K) Spesialis Gizi Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat sebagai pembicara kedua. moderator oleh dr.Vanyied Fridt Mardika, S,AIFO-(K) General Practitioner dari Primaya Hospital Bekasi Barat.

Dalam pemaparannya, dr.Davie Muhamad, Sp,GK-AIFO ( K) , menjelaskan bahwa mie tetap dapat menjadi salah satu sumber energi, tetapi perlu dikombinasikan dengan berbagai sumber zat gizi lainnya agar kebutuhan nutrisi tubuh tetap terpenuhi.
“Makanan harus bervariasi dan lengkap. Ada sumber karbohidrat, protein, serat, dan zat gizi lainnya yang harus terpenuhi. Mie sendiri lebih dominan sebagai sumber karbohidrat, sehingga perlu ada teman makan lainnya, terutama protein dan serat, agar komposisi makan menjadi lebih lengkap,” jelas dr Davie.
Ia juga mengingatkan bahwa mie instan termasuk dalam kelompok ultra-processed food, sehingga konsumsinya sebaiknya tidak terlalu sering.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan natrium.
Karena itu, menurut dr Davie, mie tidak harus menjadi makanan yang sepenuhnya dilarang. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi konsumsi, porsi, serta kombinasi makanan.
Hal senada disampaikan dr Bunga Sukma Permata,Sp.A. Menurutnya, ketika anak mengonsumsi mie, orang tua dapat menyiasatinya dengan menambahkan sumber protein dan sayuran.
“Makanlah mie sesuai dengan gambarnya, misalnya ada telur atau ayam, dan bisa ditambahkan sayuran. Jadi bukan hanya mie saja.” ujar dr Bunga.
Ia menambahkan, mie dapat menjadi salah satu pilihan makanan, tetapi tidak sebaiknya dikonsumsi terlalu sering.
Orang tua juga perlu memperhatikan pilihan sumber karbohidrat lainnya yang lebih beragam, terutama dalam kondisi tertentu seperti pada anak yang memiliki kebutuhan khusus terkait pengaturan gula darah.
Pembahasan tersebut kemudian diperkuat dari sisi edukasi kepada masyarakat oleh Gustriani Martinova, yang akrab disapa Mba Uci, selaku Staf Executive Marketing Primaya Hospital Bekasi Barat.
Menurut Mba Uci, ketertarikan anak terhadap mie bukan hanya persoalan kandungan makanan, tetapi juga berkaitan dengan cita rasa, kepraktisan, serta kebiasaan makan yang berkembang di keluarga.
Bahkan, mie juga menjadi makanan yang disukai oleh banyak orang dewasa.
“Makan mie itu sebenarnya tergantung bagaimana kita mengonsumsinya.
Tidak perlu terlalu berlebihan. Boleh makan, tetapi secukupnya dan tetap memperhatikan kelengkapan nutrisinya.” ungkap Mba Uci.
Melalui kegiatan tersebut, Primaya Hospital Bekasi Barat berharap para orang tua, oma-opa yang turut membantu mengasuh cucu, ibu muda, maupun remaja mendapatkan pemahaman yang lebih tepat mengenai pola makan anak.
Edukasi ini diharapkan dapat mengubah sudut pandang bahwa makanan tertentu tidak selalu harus dikategorikan secara sederhana sebagai “boleh” atau “tidak boleh”.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana orang tua memastikan pola makan anak tetap beragam, seimbang, cukup, dan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.
Seminar “Benarkah Mie Tidak Baik untuk Anak?” menjadi bagian dari komitmen Primaya Hospital Bekasi Barat dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak.
Kesimpulannya, mie bukanlah makanan yang otomatis harus menjadi pantangan bagi anak.
Namun, konsumsinya perlu dibatasi dan dilengkapi dengan sumber protein, serat, serta makanan bergizi lainnya agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
