JAKARTA , Poskota Nasional
Industri teknologi kedirgantaraan Indonesia terus menunjukkan perkembangan dengan hadirnya inovasi pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) karya anak bangsa.
Salah satunya dikembangkan oleh AMX UAV, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan jasa spasial, dengan menghadirkan UAV berkemampuan Vertical Take-Off and Landing (VTOL) yang dirancang untuk berbagai kebutuhan industri dan pemetaan.
Founder dan CEO AMX UAV, Abdul Majid Al Ma’tsurat, mengatakan produk UAV yang dikembangkan perusahaannya dirancang untuk menjawab kebutuhan pemetaan dan survei di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga konservasi alam.
“Produk utama kami memiliki kemampuan vertical take-off and landing, sehingga mudah dioperasikan di berbagai kondisi. Setelah mencapai ketinggian yang aman, UAV dapat melakukan transisi menjadi pesawat bersayap untuk menjalankan misi dengan jangkauan yang lebih luas,” ujar Abdul Majid saat ditemui Poskota Nasional dalam pameran INTI di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, teknologi tersebut dapat digunakan untuk berbagai misi, antara lain pemetaan kawasan industri dan pertambangan, pemodelan struktur perkebunan dan perhutanan, survei kondisi wilayah, hingga pemantauan kerusakan lingkungan dan konservasi alam.
AMX UAV juga mengembangkan desain yang mengutamakan aspek kompak, modular, mudah dibongkar-pasang, dan mudah dioperasikan. Karakteristik tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan pengguna di sektor perkebunan, pertanian, maupun survei lapangan yang membutuhkan perangkat yang reliabel dan mudah dibawa ke berbagai lokasi.
“Keunggulan kami salah satunya desainnya kompak dan bisa dilepas-pasang dengan mudah.
Dari sisi operasional juga kami membuatnya sesederhana mungkin, sehingga operator yang sudah terbiasa menerbangkan drone dapat dengan mudah mengoperasikannya,” jelasnya.
Selain kemudahan operasional, AMX UAV mengembangkan produknya agar mampu menghadapi kondisi angin yang cukup kuat. UAV tersebut memiliki kemampuan menghadapi angin hingga sekitar 14 meter per detik, sehingga menurut Abdul Majid dapat digunakan untuk misi di berbagai wilayah Indonesia.
Pengujian produk, lanjut dia, telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Pantai Selatan Jawa serta beberapa daerah di Indonesia bagian timur dan utara.
“Kami memiliki tim survei sendiri dan juga bekerja sama dengan berbagai pihak. Teknologi ini sudah kami uji di sejumlah wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda,” katanya.
Dari Pemetaan hingga Konservasi
Dalam pengembangannya, AMX UAV tidak hanya menyasar sektor industri. Perusahaan juga telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan tim konservasi.
Beberapa penggunaan UAV tersebut antara lain mendukung kegiatan survei pemerintah daerah serta kebutuhan pemantauan dan konservasi satwa.
AMX UAV juga membuka peluang custom design sesuai kebutuhan pengguna.
“Kami juga mendapat permintaan desain khusus dari sejumlah mitra.
Untuk konservasi, misalnya, kami pernah bekerja sama dengan tim yang memiliki kegiatan terkait konservasi gajah,” ujar Abdul Majid.
Di sisi lain, AMX UAV mulai memperluas pengembangan teknologi melalui kerja sama internasional. Salah satunya dengan mitra dari Korea Selatan untuk pengembangan teknologi drone khusus.
Abdul Majid mengatakan proses research and development serta pembuatan awal dilakukan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, sebelum nantinya diarahkan menuju produksi massal di Korea Selatan.
Masuk ke Dunia Pendidikan dan STEM
AMX UAV juga melihat sektor pendidikan sebagai pasar potensial untuk pengembangan teknologi drone di Indonesia.
Perusahaan menyiapkan produk yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics) bagi pelajar, sekaligus memperkenalkan teknologi penerbangan tanpa awak sejak dini.
Untuk memperkuat pengembangan teknologi dan pendidikan, AMX UAV juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menurut Abdul Majid, pihaknya juga memperoleh dukungan hibah dari Asian Development Bank (ADB) untuk pengembangan salah satu program teknologi yang sedang dikerjakan.
“Kami ingin teknologi ini tidak hanya digunakan untuk industri, tetapi juga menjadi bagian dari edukasi. Kami ingin anak-anak sekolah bisa belajar teknologi UAV, sains, dan matematika melalui produk yang memang dikembangkan di Indonesia,” tuturnya.
Bidik Pasar Ekspor
Setelah mengembangkan pasar domestik, AMX UAV mulai membidik pasar internasional. Abdul Majid menyebut pihaknya telah menerima ketertarikan dari calon pengguna dan mitra di sejumlah wilayah, termasuk Afrika dan Eropa.
Menurut dia, karakteristik produk yang kompak, mudah dioperasikan, serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna menjadi salah satu modal untuk menembus pasar global.
“Target kami sangat terbuka untuk ekspor. Saat ini sudah ada ketertarikan dari beberapa negara di Afrika dan Eropa. Harapannya, produk edukasi maupun produk industri kami ke depan bisa semakin banyak digunakan, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Abdul Majid menegaskan bahwa pengembangan UAV menjadi bagian dari upaya AMX UAV untuk mendorong tumbuhnya industri teknologi tinggi nasional.
“Kami ingin produk-produk dalam negeri tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga mampu bersaing di luar negeri. Harapannya, ini bisa menjadi kebanggaan Indonesia,” pungkas Abdul Majid.
AMX UAV saat ini terus mengembangkan ekosistem teknologi UAV melalui kolaborasi dengan industri, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra internasional, serta sektor pendidikan. Perusahaan berharap pengembangan tersebut dapat membuka peluang pasar baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri teknologi pesawat tanpa awak.
