Jakarta, Poskota Nasional
Industri penyamakan dan produk kulit nasional, khususnya di Jawa Tengah, tengah menghadapi berbagai tantangan yang berdampak pada penurunan kualitas bahan baku hingga melemahnya daya saing industri.
Kondisi tersebut disampaikan Bendahara DPP Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI), Karyadi, saat ditemui di Booth APKI Jawa Tengah dalam ajang pameran sepatu yang diselenggarakan Krista Media Expo di JIEXPO Kemayoran, Rabu (5/8).
Menurut Karyadi, perkembangan industri kulit tahun ini tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah penurunan kualitas kulit sapi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kualitas pakan ternak dan kondisi cuaca yang kurang mendukung.
“Kalau untuk kulit sapi memang cukup sulit.
Saat ini kualitas kulit mengalami penurunan. Kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor pakan ternak dan kondisi cuaca yang kurang mendukung,” ujarnya.
Sementara itu, untuk kulit kambing dan domba yang banyak digunakan sebagai bahan baku sarung tangan, kondisinya masih relatif stabil.
Di sisi lain, permintaan kulit sapi untuk kebutuhan industri kerupuk kulit masih cukup baik, tetapi sektor produk kulit seperti jaket dan beberapa produk ekspor mengalami perlambatan.
Meski demikian, pasar ekspor Indonesia masih bertahan, terutama ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
Sebagian besar produk yang diekspor merupakan barang jadi yang diproduksi di sentra industri kulit, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Proses produksinya banyak dilakukan di Yogyakarta, mulai dari pengolahan hingga menjadi sarung tangan.
Setelah menjadi produk jadi, baru diekspor ke Eropa dan berbagai negara tujuan lainnya,” jelasnya.
Karyadi mengatakan, di wilayah Jawa Tengah dan DIY terdapat sekitar 35 pelaku industri yang tergabung dalam ekosistem usaha penyamakan dan produk kulit. Namun, kondisi industri saat ini belum sepenuhnya pulih.
“Banyak pelaku usaha yang mengalami penurunan produksi. Untuk pasar ekspor masih relatif stabil, tetapi pasar lokal belum cukup mendukung sehingga pemasarannya masih menghadapi tantangan,” katanya.
Selain persoalan bahan baku dan pasar, tingginya biaya operasional menjadi kendala utama yang dirasakan hampir seluruh pelaku industri.
Kenaikan biaya produksi tidak diimbangi dengan meningkatnya daya beli masyarakat, sehingga harga jual produk sulit dinaikkan.
“Masalah terbesar sekarang adalah biaya operasional yang semakin tinggi.
Daya beli masyarakat juga menurun, sementara konsumen menginginkan harga yang tetap murah. Ini menjadi tantangan besar bagi industri,” ungkapnya.
APKI Jawa Tengah terus berupaya memperkenalkan potensi industri kulit daerah serta mendorong penguatan sektor hulu, khususnya ketersediaan bahan baku berkualitas.
Organisasi berharap dukungan dari berbagai pihak dapat membantu meningkatkan daya saing industri kulit nasional.
“Kami berharap industri kulit di Jawa Tengah dapat kembali berkembang.
Yang paling penting adalah ketersediaan bahan baku yang berkualitas serta terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif sehingga pelaku industri bisa kembali tumbuh,” tutup Karyadi.
