Jakarta, Poskota Nasional
Pemahaman terhadap falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan masyarakat Minangkabau.
Hal tersebut disampaikan oleh Syahrial Nalis pengusaha Restoran padang Siang Malam saat menghadiri kegiatan Kajian Adat DPP DARAM yang digelar di Kampus UHAMKA, Pasar Rebo, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Mengusung tema “Pemahaman dan Implementasi ABS-SBK: Syarak Mangato, Adat Mamakai di Minangkabau”, kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi para tokoh, akademisi, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman terhadap falsafah yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Minangkabau.
Dalam keterangannya, Syahrial Nalis mengapresiasi terselenggaranya kajian tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini merupakan langkah positif dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai adat dan agama, khususnya bagi masyarakat Minangkabau, termasuk yang berada di perantauan.
“Ini merupakan hal yang sangat baik. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan seperti ini, syiar adat dan agama dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Ia menilai, meskipun masyarakat Minangkabau dikenal memiliki ikatan yang kuat dengan adat istiadat, masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperluas wawasan dan pemahaman mengenai filosofi ABS-SBK agar dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan saya ke depan, masyarakat, khususnya masyarakat Sumatera Barat, benar-benar semakin memahami adat sekaligus memahami ajaran agamanya. Karena falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah mengajarkan bahwa adat dan syariat Islam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” katanya.
Menurut Syahrial, penguatan pemahaman terhadap ABS-SBK tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga adat, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, ulama, akademisi, dan generasi muda agar nilai-nilai luhur Minangkabau tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Melalui kajian yang diselenggarakan DPP DARAM ini diharapkan lahir semangat baru untuk terus melestarikan budaya Minangkabau yang berlandaskan ajaran Islam, sehingga falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
