Mendekatkan Pengetahuan Iklim ke Masyarakat: Akselerasi Insentif dan Komunikasi Sederhana untuk Masa Depan Berkelanjutan”
Jakarta, Poskota Nasional
Upaya mempercepat pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam isu perubahan iklim dan ekonomi karbon menjadi sorotan utama dalam talk show, pameran foto, dan pemutaran film bertajuk “Hutan Indonesia di Tangan Masyarakat: Alokasi Ruang Adat, Karbon, dan Ekonomi Restoratif untuk Masa Depan” yang diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa 31/3/2026.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim KLH, Dr. Drs. Ignatius Wahyu Marjaka, M.Eng, menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis informasi yang mudah diakses oleh masyarakat luas.
Ia menyampaikan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya pada ketersediaan data dan kebijakan, tetapi juga pada bagaimana menyederhanakan komunikasi agar dapat dipahami oleh masyarakat awam.
“Komunikasi yang efektif harus menggunakan bahasa yang sederhana dan relevan dengan keseharian masyarakat. Pengetahuan yang kompleks perlu diterjemahkan agar tidak menciptakan jarak antara kebijakan dan pemahaman publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berbagai program dan paket fasilitasi yang telah disiapkan pemerintah, termasuk dukungan mobilisasi sumber daya, masih belum cukup optimal tanpa adanya pendekatan insentif yang mampu mendorong percepatan partisipasi masyarakat. Menurutnya, diperlukan strategi akselerasi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Acara ini juga menghadirkan keynote speaker Rohmat Marzuki, S.Hut, Wakil Mentri Kehutanan RI yang menyoroti pentingnya peran masyarakat adat dan lokal dalam pengelolaan hutan serta kontribusinya terhadap ekonomi restoratif.
Ia menegaskan bahwa alokasi ruang adat dan penguatan kapasitas masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini turut mengangkat isu kesenjangan antara kapasitas yang telah dibangun dengan tingkat pergerakan atau implementasi di lapangan.
Meskipun berbagai inisiatif telah berjalan dan jumlah program terus meningkat, efektivitasnya masih perlu ditingkatkan agar benar-benar memberikan dampak nyata.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta kesadaran kolektif bahwa keberhasilan kebijakan iklim dan ekonomi karbon sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat.
Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang inklusif, pemberian insentif yang tepat, serta kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mendorong transformasi menuju masa depan yang berkelanjutan.
