“Geopolitik Memanas, Indonesia Didorong Percepat Kedaulatan Energi Menuju 2045”
Jakarta, Poskota Nasional
Ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, dinilai berpotensi memengaruhi ketahanan energi Indonesia.
Dalam Diskusi Publik bertajuk “Akselerasi Transisi Energi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Gedung Margasiswa I, Jalan GSS Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, para narasumber menyoroti pentingnya strategi energi nasional yang lebih mandiri dan adaptif.
Pengamat energi sekaligus Ketua Alfa Research Database, Fredy Hasiman, menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan energi global, termasuk minyak mentah dari Timur Tengah yang menjadi penopang kilang seperti di Cilacap.
Menurutnya, gangguan distribusi di kawasan tersebut dapat berdampak signifikan terhadap pasokan BBM nasional.
“Jika terjadi hambatan distribusi dari Timur Tengah akibat konflik, tentu akan berpengaruh. Namun, Indonesia masih memiliki cadangan sekitar 400 ribu barel per hari yang dapat didistribusikan secara nasional. Kuncinya adalah efektivitas dan prioritas penggunaan,” ujar Fredy.
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif, mengingat Indonesia bukan negara dengan sumber energi fosil yang melimpah.
Dalam konteks global, dinamika seperti konflik di Lebanon maupun ketegangan yang melibatkan negara-negara produsen energi dapat memicu gangguan pasokan minyak hingga jutaan barel per hari.
Lebih lanjut, Fredy mengingatkan bahwa penggunaan BBM harus diarahkan secara bijak dan strategis.
Ia mendorong agar sektor kelistrikan tidak lagi bergantung pada BBM, mengingat Indonesia telah memiliki potensi besar pada energi baru terbarukan.
” Kita harus memprioritaskan penggunaan BBM, jangan sampai digunakan untuk listrik jika sudah ada alternatif energi terbarukan. BBM seharusnya difokuskan pada sektor transportasi, industri, dan kebutuhan vital lainnya,” jelasnya.
Diskusi ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PP PMKRI, Maria Putri, Ketua PP PMKRI, Susana F. M. Kandaimu, serta perwakilan dari Lembaga Maritim PP PMKRI, Valentinus Jimmy Langi Laka.
Para peserta sepakat bahwa perjalanan menuju kedaulatan energi Indonesia masih panjang dan memerlukan komitmen kuat dari pemerintah, dunia industri, serta masyarakat. Transisi energi dinilai bukan hanya sebagai kebutuhan lingkungan, tetapi juga sebagai strategi menghadapi ketidakpastian global.
Diskusi publik ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam mendorong percepatan transisi energi berkelanjutan, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Geopolitik Memanas, Indonesia Didorong Percepat Kedaulatan Energi Menuju 2045”
