Jakarta, Poskota Nasional
Indonesia memiliki potensi sumber daya hidrogen yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih relatif terbatas. Untuk mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional, Indonesia Fuel Cell and Hydrogen Energy (IFHE) terus mendorong kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, industri, pelaku usaha, media, hingga masyarakat melalui pendekatan pentahelix.
Deputi III Bidang Kolaborasi Bisnis dan Industri IFHE, Rahmadi Budiman, mengatakan IFHE hadir sebagai wadah komunikasi, diskusi, dan kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan yang bergerak di bidang hidrogen dan fuel cell, baik untuk kebutuhan pembangkit listrik, transportasi, maupun sektor industri lainnya.
“Indonesia memiliki potensi hidrogen yang sangat besar.
Tantangan kita saat ini adalah bagaimana seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi agar teknologi hidrogen semakin berkembang dan mampu menjadi salah satu solusi menuju kemandirian energi nasional,” ujar Rahmadi saat ditemui Poskota Nasional di ajang Electric & Power Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurut Rahmadi, salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan energi hidrogen adalah tingginya harga perangkat maupun biaya produksi hidrogen dibandingkan energi konvensional berbasis fosil.
Namun, kondisi tersebut lebih disebabkan oleh besarnya investasi awal (capital expenditure), sementara dari sisi operasional biaya hidrogen justru jauh lebih kompetitif dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan hidrogen harus dilihat menggunakan pendekatan total cost of ownership, bukan hanya berdasarkan biaya investasi awal.
“Kalau hanya melihat investasi awal memang terlihat mahal.
Namun ketika dihitung selama masa operasional lima, sepuluh, hingga lima belas tahun, teknologi hidrogen jauh lebih efisien dibandingkan energi berbasis fosil,” katanya.
Rahmadi menambahkan, teknologi fuel cell memiliki keunggulan karena sebagian besar prosesnya berlangsung melalui reaksi kimia tanpa banyak komponen mekanis yang bergerak.
Hal tersebut membuat biaya perawatan lebih rendah sekaligus memperpanjang usia operasional perangkat.
“Berbeda dengan mesin berbahan bakar fosil yang memiliki banyak komponen bergerak, fuel cell bekerja melalui reaksi kimia untuk menghasilkan elektron sebagai sumber listrik. Karena itu efisiensinya lebih tinggi dan biaya pemeliharaannya lebih rendah,” jelasnya.
Selain mendorong pengembangan industri, IFHE juga menjembatani hasil riset akademisi agar dapat diimplementasikan oleh dunia usaha.
Menurut Rahmadi, riset yang dihasilkan perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan industri sehingga memiliki nilai ekonomi dan dapat dipasarkan.
“Kami ingin mempertemukan dunia penelitian dengan dunia industri agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dimanfaatkan masyarakat dan menjadi produk yang memiliki nilai komersial,” ujarnya.
Melalui berbagai forum diskusi, pameran, dan kerja sama lintas sektor, IFHE juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat energi hidrogen sebagai energi bersih masa depan.
Rahmadi mengibaratkan hidrogen seperti investasi jangka panjang yang memberikan manfaat lebih besar dibandingkan keuntungan instan.
“Teknologi hidrogen bukan solusi yang menghasilkan keuntungan dalam waktu satu atau dua bulan.
Namun dalam jangka panjang, efisiensi, ketahanan, dan manfaat ekonominya jauh lebih besar,” katanya.
Ke depan, IFHE menargetkan lahirnya lebih banyak kerja sama konkret antara pelaku usaha, investor, industri pengguna, lembaga riset, dan pemerintah untuk mempercepat adopsi teknologi hidrogen di Indonesia.
“Kami berharap melalui kegiatan ini akan lahir kolaborasi yang lebih konkret sehingga industri hidrogen nasional semakin berkembang.
Semakin banyak masyarakat memahami hidrogen sebagai salah satu energi terbarukan, maka target kemandirian energi Indonesia akan semakin cepat terwujud, terutama di tengah dinamika geopolitik global saat ini,” tutup Rahmadi kepada Poskota Nasional .com
