ICE BSD , Poskota Nasional
PT Bevananda
Mustika bersama PT BK Wire Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan manufaktur kawat baja (steel wire) terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, perusahaan kini mampu memproduksi material secara mandiri sehingga kualitas produk dapat dikendalikan secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Presiden Direktur Bevananda, Haryanto Widjaya, mengatakan perjalanan perusahaan dimulai pada era 1990-an melalui PT Anugerah Wijaya Trisna yang bergerak sebagai distributor, agen, serta eksportir-importir berbagai kebutuhan konstruksi.
“Awalnya kami bergerak di bidang konstruksi, mulai dari pondasi, konstruksi baja, roofing, hingga perdagangan material.
Dari sana kami terus berkembang hingga akhirnya masuk ke sektor industri manufaktur,” ujar Haryanto saat ditemui Poskota Nasional di ajang IndoBuildTech 2026 di ICE BSD, Jumat (10/7/2026).
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pendirian PT Bevananda Mustika, yang kini telah berusia lebih dari 30 tahun.
Perusahaan kemudian memperkuat rantai produksinya dengan menghadirkan PT BK Wire Indonesia sebagai pabrik pengolahan bahan baku steel wire.
Menurut Haryanto, transformasi tersebut menjadikan perusahaan tidak lagi bergantung pada pasokan material dari pihak lain.
“Dulu kami hanya memproduksi barang jadi, sedangkan bahan bakunya harus membeli dari luar.
Sekarang seluruh material kami produksi sendiri, mulai dari wire rod hingga menjadi berbagai produk akhir. Dengan sistem yang terintegrasi, mutu produk menjadi lebih konsisten, stabil, dan mudah dikendalikan,” katanya.
BK Wire Indonesia saat ini memproduksi berbagai jenis material kawat baja menggunakan teknologi modern yang diklaim menjadi salah satu yang paling lengkap di Asia Tenggara.
“Saya berani mengatakan salah satu yang terlengkap dan tercanggih di Asia Tenggara. .
Saya sudah melihat industri sejenis di Singapura, Malaysia, Thailand, dan negara-negara lainnya. Kami terus meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di tingkat regional,” ujarnya.
Selain memproduksi bahan baku, perusahaan juga mengembangkan berbagai produk turunan sesuai kebutuhan pelanggan. Seluruh proses, mulai dari material hingga produk jadi dengan berbagai spesifikasi, dilakukan dalam satu sistem produksi yang terintegrasi.
Pengembangan kapasitas produksi juga terus dilakukan.
Kawasan industri perusahaan di Cikarang berkembang dari lahan seluas 5.000 meter persegi hingga kini mencapai sekitar 3 hektare.
Sementara fasilitas produksi di Subang dibangun di atas lahan sekitar 6 hektare.
Di pasar internasional, produk Bevananda telah mulai memasuki sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara lainnya. Meski masih dalam tahap pengembangan, perusahaan optimistis ekspor akan terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi.
“Target kami bukan sekadar bertahan, tetapi terus tumbuh dan berkembang. Kami ingin konsumen melihat bahwa perusahaan ini memiliki langkah yang jelas untuk menjadi lebih maju,” kata Haryanto.
Tak hanya fokus pada sektor industri, Bevananda juga berkontribusi dalam mendukung pembangunan nasional. Selama hampir dua dekade, produk perusahaan dipercaya untuk berbagai proyek strategis pemerintah, termasuk pembangunan lembaga pemasyarakatan (lapas), sistem pengamanan, hingga infrastruktur pertahanan di wilayah perbatasan Indonesia.
“Sebagai warga negara Indonesia, saya ingin terus menyumbangkan pemikiran, inovasi, dan produk terbaik bagi bangsa.
Kami bersyukur dipercaya selama hampir 20 tahun untuk mendukung pembangunan berbagai fasilitas keamanan, termasuk lembaga pemasyarakatan dan infrastruktur pertahanan.
Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghasilkan produk berkualitas tinggi buatan Indonesia,” tutup Haryanto.
Dengan penguasaan industri dari hulu hingga hilir, Bevananda optimistis mampu memperkuat daya saing industri baja nasional sekaligus memperluas pasar ekspor, membawa produk manufaktur Indonesia semakin dikenal di tingkat global.
