ICE BSD , Poskota Nasional
Industri kosmetik Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, seiring semakin beragamnya kebutuhan konsumen dan meningkatnya minat pelaku usaha untuk mengembangkan produk kosmetik dengan karakteristik serta konsep yang berbeda-beda.
Hal tersebut disampaikan Chief Scientific Officer esthetico Derma Partner world class Marlon Dr. Apt. Rendra Pranadipa Tofani, MSc, FACP, saat ditemui seusai seminar “Before You Maklon Your Hero Product: Dermatopharmacist-Led Hero Product Design” pada hari pertama penyelenggaraan Cosmobeauté Indonesia 2026, Kamis (1/10/2026), pukul 15.00–16.30 WIB, di Hall 7 ICE BSD, Tangerang.
Menurut Rendra , Chief Scientific Officer esthetica Derma Institute mengatakan kebutuhan pengembangan produk kosmetik saat ini semakin beragam.
Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan jasa produksi, tetapi juga memerlukan mitra yang dapat membantu menerjemahkan kebutuhan dan konsep masing-masing merek ke dalam produk yang sesuai.
“Produk-produk kosmetik untuk berbagai macam merek itu kebutuhan masing-masing customer berbeda-beda.
Karena itu, kita ingin semuanya bisa dikembangkan dalam satu tempat, sehingga customer mendapatkan partner bisnis yang baru,” ujar Dr apt Rendra.
Dr apt Rendra menambahkan, pengembangan produk kosmetik juga perlu mempertimbangkan kondisi industri, termasuk penggunaan bahan baku yang sebagian masih berasal dari impor.
Fluktuasi harga bahan baku dan biaya produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan sejak awal dalam proses pengembangan produk.
“Bagaimanapun, bahan baku kita banyak yang impor, sehingga harus menyesuaikan dengan harga modal dan kondisi pasar. Jadi bukan hanya produk lokal saja, tetapi berbagai kebutuhan dan karakter produk harus bisa kita sesuaikan,” jelasnya
Dari sisi kategori, peluang pengembangan produk kosmetik dinilai tidak terbatas pada produk perawatan wajah.
Produk untuk rambut dan kategori perawatan lainnya juga memiliki potensi untuk terus dikembangkan dengan menyasar kebutuhan konsumen dari berbagai kelompok usia, termasuk rentang usia sekitar 20 hingga 50 tahun.
Dr apt Rendra juga berharap kondisi perekonomian nasional semakin membaik sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri kosmetik di Indonesia.
“Semoga kondisi perekonomian kita semakin baik, sehingga salah satunya industri kosmetik juga bisa semakin marak dan berkembang lagi,” katanya.
Ia melihat pasar kosmetik memiliki rentang produk dan harga yang cukup beragam, mulai dari belasan ribu rupiah hingga sekitar seratus ribu rupiah atau lebih, tergantung pada jenis, formulasi, konsep, serta segmen produk yang dikembangkan.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa industri kosmetik tidak hanya bergerak pada satu segmen pasar.
Peluang pengembangan produk terbuka bagi berbagai kelas pasar, termasuk segmen menengah, dengan tetap memperhatikan kualitas, kebutuhan konsumen, formulasi, serta efisiensi biaya produksi.
Seminar “Before You Maklon Your Hero Product: Dermatopharmacist-Led Hero Product Design” menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Cosmobeauté Indonesia 2026, yang mempertemukan berbagai pelaku industri kecantikan dan kosmetik, termasuk pemilik merek, pengembang produk, manufaktur, serta mitra bisnis.
Melalui pengembangan 50 Years hero product Maklon Partner ,yang dirancang berdasarkan kebutuhan dan karakter masing-masing merek, pelaku industri diharapkan dapat menciptakan produk yang memiliki identitas kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar.
