Jakarta ,Poskota Nasional
Berawal dari mengikuti sebuah workshop ecoprint di wilayah Kabupaten Bogor, Yanti M. Rivanalia menemukan ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi peluang usaha. Berbekal proses belajar secara bertahap, ia mulai menekuni teknik ecoprint hingga mampu menghasilkan berbagai produk fesyen bernilai ekonomi melalui Djedjak Daun
Usaha yang dirintis sejak akhir 2018 tersebut tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran produk ecoprint, tetapi juga berkembang menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan workshop.
“Awalnya kita ikut workshop ecoprint. Setelah belajar sedikit-sedikit, ternyata mengasyikkan dan bisa menghasilkan rupiah. Akhirnya kita tekuni sampai sekarang,” ujar Yanti M. Rivanalia.
Perjalanan Djedjak Daun bukan tanpa tantangan.
Pandemi Covid-19 yang melanda pada 2020 sempat memberikan dampak terhadap aktivitas usaha. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Yanti.
Strategi pemasaran kemudian diperkuat melalui kanal daring, sementara kegiatan produksi dan pengembangan produk tetap berjalan.
Seiring waktu,Djedjak Daun juga aktif menggelar workshop ecoprint bagi berbagai kalangan, mulai dari sekolah, instansi, komunitas hingga masyarakat umum.
Menariknya, sejumlah peserta yang sebelumnya hanya mengikuti pelatihan kini telah mampu menghasilkan dan mengembangkan produk ecoprint secara mandiri.
“Yang awalnya ikut workshop sekarang sudah punya produk sendiri. Kalau ada pesanan banyak, kita bisa saling membantu memenuhi pesanan melalui komunitas,” jelasnya.
Konsep pemberdayaan tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan Djedjak Daun
Yanti membangun komunitas yang melibatkan sejumlah pelaku ecoprint, termasuk para peserta workshop yang kemudian menekuni usaha serupa.
Kolaborasi ini tidak hanya membantu meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi anggota komunitas.
Untuk produk seperti pashmina dan scarf, kapasitas produksi dapat mencapai sekitar 25 hingga 50 lembar per hari, bergantung pada jenis serta tingkat kerumitan produk. Dengan dukungan tim dan jaringan komunitas, kapasitas tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pesanan.
Tidak berhenti di pasar domestik, produk Djedjak Daun juga mulai menjangkau konsumen mancanegara. Pemasaran secara daring telah membawa produk ecoprint tersebut hingga ke Australia, termasuk Brisbane.
Ke depan, Yanti menargetkan Djedjak Daun dapat semakin memperluas pasar internasional.
Salah satu peluang yang tengah dipersiapkan adalah keikutsertaan dalam kegiatan business matching dengan pihak Malaysia yang direncanakan berlangsung pada September mendatang.
Meski memiliki target untuk menembus pasar ekspor, Yanti menegaskan bahwa kualitas produk tetap menjadi prioritas utama.
Menurutnya, persaingan di industri fesyen menuntut pelaku usaha untuk terus melakukan inovasi dan meningkatkan kualitas.
“Kita harus yakin dulu produknya bagus, kualitasnya bisa kita tingkatkan, karena persaingan bisnis fashion sangat ketat,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan pasar, juga aktif mengikuti berbagai pameran dan kegiatan promosi.
Produk mereka antara lain diperkenalkan melalui kegiatan di IKEA Sentul atas dukungan kementerian, serta berbagai pameran yang digelar di sejumlah hotel pada akhir pekan.
Bagi Yanti, pameran bukan sekadar menjadi tempat berjualan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat sekaligus membuka peluang pasar baru.
Ia berharap minat masyarakat terhadap produk dalam negeri terus tumbuh sehingga produk lokal mampu menjadi pilihan utama di tengah persaingan dengan produk luar.
“Kita berharap produk dalam negeri juga ramai, bukan hanya produk-produk dari luar,” ujarnya.
Yanti M. Rivanalia dalam pengembangan didampingi Dedeh Sadiah selaku owner Lafaribi , Dalam kegiatan tersebut turut hadir Tri Sumanti, owner Chitus Art.
Perjalanan menjadi gambaran bahwa ecoprint tidak sekadar kerajinan berbasis kreativitas dan keindahan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber penghasilan serta sarana pemberdayaan masyarakat.
Dari sebuah workshop sederhana, ecoprint berkembang menjadi usaha, komunitas, sekaligus pintu untuk membawa karya lokal Indonesia menuju pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
