JAKARTA, Poskota Nasional
Pengembangan energi panas bumi di wilayah Sumatera Utara terus didorong untuk mendukung pencapaian target pemerintah dalam meningkatkan kapasitas energi terbarukan nasional.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pengembangan panas bumi Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Senior Manager External Relations Sarulla Operations Ltd ” Geothermal Power” Agdya Yogandari, mengatakan pihaknya saat ini tengah berfokus pada upaya percepatan pengembalian kapasitas pembangkit sebesar 330 megawatt (MW), sekaligus menyiapkan pengembangan sumber daya panas bumi baru di wilayah Sibualbuali.
“Untuk Sarulla, saat ini kita sedang mengembangkan Sibualbuali sebesar 50 MW. Namun, untuk sekarang fokus kami adalah pengembalian kapasitas terlebih dahulu, yaitu 330 MW,” ujar Agdya saat ditemui Poskota Nasional dalam acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (19/8/2026).
Menurut Agdya, dukungan pemerintah menjadi salah satu faktor penting agar pengembangan panas bumi di Sarulla dapat berjalan lebih cepat. Dari sisi pengembang, percepatan proyek sangat bergantung pada kepastian berbagai aspek, termasuk keekonomian dan tarif listrik.
“Dari segi tarif, sebenarnya kami bisa lebih cepat untuk menjalankan pengembangan 330 MW. Karena itu, kami berharap terus mendapatkan dukungan dari pemerintah,” katanya.
Agdya menjelaskan bahwa karakteristik energi panas bumi berbeda dengan sumber energi lainnya karena pembangkitnya harus berada di lokasi sumber panas bumi.
Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan melalui sistem jaringan listrik, sehingga pengembangan panas bumi sangat berkaitan dengan kesiapan infrastruktur dan kondisi wilayah.
“Kalau panas bumi, lokasinya memang harus di tempat sumbernya.
Tidak bisa dipindahkan seperti komoditas lainnya. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak sangat penting,” ujarnya.
Sarulla sendiri berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan menjadi salah satu kawasan panas bumi strategis di Indonesia. Pengembangan proyek tersebut juga melibatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah.
Agdya menyebut pendekatan pentahelix menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengembangan panas bumi, melibatkan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Untuk pengembangan Sarulla, kita membutuhkan banyak dukungan. Karena itu hubungan dengan stakeholder menjadi sangat penting.
Kami juga menggunakan pendekatan pentahelix,” tuturnya.
Dukungan pemerintah daerah juga dinilai penting.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tapanuli Utara turut hadir dan menjadi bagian dari komunikasi antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pengembangan panas bumi.
Agdya menambahkan, percepatan pengembangan Sarulla sejalan dengan upaya pemerintah mengejar target peningkatan kapasitas panas bumi nasional hingga 5,2 gigawatt (GW).
“Kami sangat ingin terus mendapatkan support dari pemerintah karena kami tahu target pemerintah untuk panas bumi mencapai 5,2 GW.
Di sisi lain, kami juga berharap dukungan dari berbagai pihak agar pemulihan kapasitas 330 MW di Sarulla bisa berjalan lebih cepat,” katanya.
Selain pemulihan kapasitas pembangkit yang telah ada, pengembangan Sibualbuali sebesar 50 MW menjadi bagian dari rencana jangka panjang Sarulla untuk meningkatkan kontribusi energi panas bumi di Sumatera Utara.
Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan listrik berbasis energi terbarukan di wilayah Sumatera bagian utara, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah dan masyarakat sekitar.
Dengan potensi panas bumi yang besar dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Sarulla diharapkan dapat menjadi salah satu motor percepatan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
