Jakarta, Poskota Nasional
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai kewajiban perusahaan, tetapi harus menjadi kebutuhan seluruh masyarakat.
Semangat inilah yang terus diusung HSE Indonesia sejak berdiri pada 2010, sebelum kemudian berkembang menjadi organisasi yang lebih profesional melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan edukasi.
Pendiri sekaligus Ketua Umum HSE Indonesia, Hendrajati, S.Pd., M.T., C., STMI., S.Pi., C.I.S., menegaskan bahwa cita-cita terbesar organisasinya adalah membangun budaya K3 di Indonesia. Menurutnya, negara yang maju adalah negara yang menjadikan keselamatan sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat.
“Kami memiliki keyakinan bahwa K3 bukan hanya kebutuhan perusahaan, tetapi juga kebutuhan seluruh masyarakat.
Ketika keselamatan sudah menjadi kebutuhan, maka orang akan melaksanakannya tanpa harus diperintah,” ujar Hendrajati saat ditemui di sela pameran GEM Indonesia di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Sejak awal berdiri, HSE Indonesia aktif melakukan sosialisasi K3 kepada masyarakat melalui lingkungan RT dan RW, sekolah, perguruan tinggi, hingga berbagai komunitas. Edukasi diberikan dengan pendekatan yang mudah dipahami sesuai usia peserta, termasuk kepada anak-anak TK dan SD agar budaya keselamatan dapat ditanamkan sejak dini.
Dalam perjalanannya, HSE Indonesia juga membentuk lembaga pelatihan serta mengembangkan program sertifikasi profesi yang mengacu pada standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Langkah tersebut dilakukan agar organisasi mampu menjalankan aktivitasnya secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.
Selain seminar, webinar, pelatihan, dan pameran, HSE Indonesia memilih memperkuat edukasi melalui penerbitan buku. Hingga saat ini, sebanyak 25 buku tentang keselamatan dan kesehatan kerja telah diterbitkan, sebagian besar ditulis langsung oleh Hendrajati.
Buku-buku tersebut membahas berbagai bidang, mulai dari dasar-dasar K3, penanggulangan keadaan darurat, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), K3 sekolah, pertambangan, hingga sektor maritim
“Kalau hanya seminar atau pelatihan, ilmunya bisa saja terlupakan. Karena itu kami menulis buku agar pengetahuan tersebut tetap melekat dan dapat dipelajari kapan saja,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen dalam menyebarluaskan pengetahuan, setiap peserta pelatihan di HSE Indonesia mendapatkan buku karya Hendrajati secara gratis.
Pelatihan juga tersedia dalam bentuk daring maupun luring sehingga dapat menjangkau peserta dari berbagai daerah.
Dalam dunia maritim, Hendrajati yang juga berpengalaman sebagai Master Trainer Senior, Auditor, dan Asesor BNSP, menekankan bahwa penerapan K3 tidak boleh berhenti sebagai pemenuhan persyaratan administrasi. Menurutnya, keselamatan harus diwujudkan melalui tindakan nyata di lapangan dengan mengedepankan langkah-langkah pencegahan sebelum kecelakaan terjadi.
“Pencegahan harus menjadi prioritas. Identifikasi aktivitas kerja, kenali bahayanya, pahami risikonya, lalu tentukan pengendaliannya.
Banyak orang masih keliru membedakan antara bahaya dan risiko. Jika pemahamannya salah, maka penerapannya di lapangan juga akan salah,” jelasnya.
Sebelum aktif di dunia pendidikan dan pelatihan, Hendrajati memiliki pengalaman selama 19 tahun bekerja di Sangatta, Kalimantan Timur, sebagai kontraktor di lingkungan PT Kaltim Prima Coal, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan K3 secara lebih luas
HSE Indonesia juga rutin mengisi seminar dan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi.
Sebagai organisasi yang mengedepankan misi sosial, HSE Indonesia tidak mematok biaya untuk kegiatan edukasi di kampus. Penyelenggara cukup menyediakan fasilitas dan transportasi apabila diperlukan.
Saat ini HSE Indonesia telah memiliki 2.032 anggota resmi yang telah memiliki kartu keanggotaan, sementara jumlah peserta yang pernah mengikuti berbagai kegiatan edukasi mencapai ratusan ribu orang.
Dalam waktu dekat, HSE Indonesia akan menyelesaikan penerbitan buku terbaru karya para penulis Indonesia, kembali mengikuti pameran di kawasan PIK 2 pada September mendatang, serta terus memperluas edukasi mengenai penanggulangan kebakaran dan pengenalan K3 ke sekolah-sekolah.
Hendrajati berharap gerakan budaya keselamatan terus berkembang di Indonesia.
Menurutnya, perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau bukan kita yang terus menyuarakan pentingnya keselamatan, siapa lagi? Jangan pernah berhenti memperjuangkan budaya K3.
Saya percaya, suatu saat Indonesia akan menjadi bangsa yang benar-benar berbudaya keselamatan,” pungkasnya.
Turut mendampingi Hendrajati dalam kegiatan tersebut, Syarochman, Ketua Bidang Organisasi dan SDM Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HSE Indonesia.
