Jakarta, Poskota Nasional

TopBand, perusahaan global yang bergerak di bidang solusi energi dan teknologi baterai, terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi energi di Indonesia.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sejak berdiri pada 1996, TopBand kini fokus pada pengembangan energi terbarukan, khususnya sistem penyimpanan energi (battery storage) dan solusi pengisian daya.
Riko Sugiyanto, Country Manager Indonesia Top Band, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama karena karakteristik geografisnya sebagai negara kepulauan.
” Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, sehingga pendekatan energi terpusat tidak selalu efektif. Solusi off-grid seperti PLTS dan baterai menjadi sangat relevan, khususnya untuk daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik,” ujar Riko.
Saat ini, TopBand telah memiliki 16 fasilitas produksi yang tersebar di berbagai negara, termasuk Vietnam, India, Rumania, dan Meksiko. Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam menjadi salah satu basis penting perusahaan dengan sejumlah pabrik dan mitra strategis.
Di Indonesia, TopBand memfokuskan pengembangan pada solusi PLTS off-grid yang menyasar sektor perkebunan, pertambangan, serta area terpencil lainnya. Solusi ini dinilai mampu memberikan efisiensi signifikan dibandingkan penggunaan genset berbahan bakar diesel.
“Penggunaan sistem hybrid antara baterai dan generator dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 40–50 persen.
Ini sangat signifikan, terutama bagi industri dengan biaya operasional energi yang tinggi,” jelas Riko.
Selain itu, TopBand juga tengah mengembangkan inovasi baterai untuk sektor maritim.
Mengingat Indonesia sebagai negara maritim, penggunaan kapal listrik atau hybrid dinilai memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun demikian, pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi regulasi dan edukasi pasar.
Hingga saat ini, insentif untuk penggunaan baterai seperti yang diterapkan di beberapa negara lain masih belum tersedia.
” Di negara seperti Vietnam, penggunaan baterai mendapat dukungan insentif dari pemerintah.
Sementara di Indonesia, regulasi masih berkembang, sehingga pengembangan lebih banyak difokuskan pada wilayah yang belum terjangkau PLN,” tambahnya.
TopBand juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat dan pelaku industri terkait teknologi baterai dan energi terbarukan.
Pemahaman yang baik diharapkan dapat mendorong adopsi teknologi secara lebih luas serta menciptakan pasar yang lebih transparan.
“Kami ingin pasar menjadi lebih sehat, di mana pelanggan memahami teknologi yang mereka gunakan dan mendapatkan harga yang wajar,” kata Riko.
Ke depan, TopBand menargetkan peningkatan awareness serta adopsi teknologi baterai di Indonesia, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan energi yang efisien, berkelanjutan, dan mandiri.
