Jakarta, Poskota Nasional
Memperingati perjalanan satu dekade sejak didirikan pada Oktober 2016, Perkumpulan Transformasi Wisata Indonesia (PTWI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat transformasi industri transportasi pariwisata, khususnya sektor bus pariwisata di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.
Ketua Umum PTWI periode 2020–2029, Luther Halim, menyampaikan bahwa asosiasi ini hadir sebagai jembatan antara para pelaku usaha bus pariwisata dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata, guna menciptakan ekosistem industri yang lebih tertata, efisien, dan berdaya saing.
Dalam momentum satu dekade ini, PTWI menegaskan fokus utama pada percepatan digitalisasi anggota. Ke depan, sistem distribusi dan penjualan layanan transportasi diharapkan dapat terintegrasi dengan platform digital seperti Traveloka dan Tiket.com, serta berbagai kanal distribusi lain, termasuk potensi kolaborasi dengan platform internasional.
Transformasi ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan efisiensi operasional anggota.
Saat ini PTWI menaungi sekitar 32 perusahaan anggota yang bergerak di sektor bus pariwisata.
Salah satu program strategis yang sedang dikembangkan adalah kerja sama dengan berbagai pihak penyedia suku cadang dan pelumas, termasuk industri oli, untuk menghadirkan skema harga khusus dan manfaat langsung bagi anggota.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah proses transformasi dari sistem manual menuju sistem digital.
Menurut Luther Halim, perubahan ini membutuhkan waktu, adaptasi, dan pendampingan agar seluruh anggota dapat bertransisi secara optimal tanpa mengganggu operasional usaha.
Selain digitalisasi, PTWI juga menyoroti isu strategis terkait keberlanjutan operasional transportasi umum, termasuk stabilitas pasokan dan harga bahan bakar subsidi seperti biosolar.
Dalam diskusi bersama Pertamina Patra Niaga, telah dibahas penerapan sistem barcode berbasis geofencing untuk memastikan penyaluran solar subsidi lebih tepat sasaran dan transparan.
Sistem ini juga memungkinkan evaluasi penggunaan kuota berdasarkan aktivitas operasional kendaraan di lapangan.
PTWI berharap kebijakan tersebut dapat memberikan prioritas yang lebih adil bagi operator angkutan umum, sekaligus menjaga keberlangsungan layanan transportasi pariwisata di tengah dinamika geopolitik dan rantai pasok global.
Selain itu, PTWI juga menegaskan pentingnya kolaborasi dengan industri karoseri dan sasis dalam memperkuat ekosistem kendaraan pariwisata nasional, termasuk keterkaitan dengan industri manufaktur seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebagai bagian dari rantai pasok infrastruktur dan industri pendukung.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, PTWI optimistis transformasi digital dan penguatan kolaborasi lintas sektor akan memberikan dampak nyata bagi peningkatan daya saing industri bus pariwisata Indonesia , ujarnya
Perkumpulan Transformasi Wisata Indonesia (PTWI) adalah asosiasi pelaku usaha bus pariwisata yang berfokus pada pengembangan ekosistem industri, advokasi kebijakan, serta percepatan digitalisasi layanan transportasi wisata di Indonesia ,tambah Luther Halim ,S.TrPar, M.Par saat ditemui pameran GEM Indonesia Jiexpo Poskota Nasional
