Jakarta, Poskota Nasional
Pacific Gas Indonesia (PGI) semakin optimistis terhadap prospek industri hidrogen di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengembangan energi terbarukan. Perusahaan menilai hidrogen, khususnya hidrogen hijau (green hydrogen), akan menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung transisi energi nasional.
Chief Operating Officer Pacific Gas Indonesia, Adryan Malindra, mengatakan bahwa meskipun grup perusahaan telah bergerak di industri gas sejak tahun 2000 dan memasuki bisnis hidrogen pada 2018, pertumbuhan pasar hidrogen menunjukkan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Prospeknya sangat baik. Setiap tahun kami melihat adanya peningkatan potensi pasar.
Berbagai pilot project yang bermunculan menjadi indikator bahwa kebutuhan hidrogen akan terus berkembang. Karena itu, kami yakin pasar hidrogen akan semakin besar ke depan,” ujar Adryan saat ditemui Poskota Nasional dalam ajang Electric & Power Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurut Adryan, pada tahap awal PGI memfokuskan pemanfaatan hidrogen untuk sektor pembangkit listrik.
Sejumlah pembangkit listrik milik PLN, seperti Priok, Muara Karang, Lontar, Cirebon, Semarang, Pemaron (Bali), hingga beberapa pembangkit lainnya telah menjadi bagian dari pengembangan pemanfaatan hidrogen.
Namun, sejak beberapa tahun terakhir, penggunaan hidrogen mulai meluas ke berbagai sektor industri.
Tidak hanya sebagai pendukung pembangkit listrik, hidrogen kini dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun kebutuhan industri lainnya.
Di sektor transportasi, menurutnya, hidrogen memiliki peluang besar untuk kendaraan berkapasitas menengah hingga berat, seperti truk, bus, alat berat, hingga kendaraan tambang.
“Untuk kendaraan penumpang atau mobil pribadi memang kurang efisien jika dibandingkan dengan kendaraan listrik berbasis baterai.
Tetapi untuk kendaraan heavy duty seperti truk, bus, dan kendaraan tambang, hidrogen memiliki potensi yang sangat besar,” jelasnya.
Adryan menjelaskan, hidrogen diproduksi melalui proses elektrolisis, yaitu pemisahan molekul air (H₂O) menjadi hidrogen (H₂) dan oksigen (O₂) menggunakan energi listrik.
Karena itu, biaya produksi hidrogen sangat dipengaruhi oleh sumber listrik yang digunakan.
“Kalau listriknya berasal dari energi hijau atau energi terbarukan, maka biaya produksi hidrogen akan semakin murah.
Sebaliknya, jika masih menggunakan listrik berbasis batu bara atau pembangkit konvensional, tentu biaya produksinya akan lebih tinggi,” katanya.
Ia menambahkan, regulasi pemerintah di sektor kelistrikan juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing harga hidrogen hijau di masa mendatang.
Lebih jauh, Adryan meyakini bahwa fungsi utama hidrogen pada masa depan bukan hanya sebagai bahan bakar, melainkan juga sebagai media penyimpanan energi (energy storage).
Menurutnya, tantangan terbesar dalam sistem energi saat ini adalah bagaimana menyimpan dan memindahkan energi secara efisien.
“Kalau menggunakan baterai, kapasitas yang dibutuhkan akan sangat besar dan investasinya mahal.
Hidrogen menawarkan solusi penyimpanan energi yang lebih fleksibel karena dapat disimpan dalam tangki dan digunakan kembali ketika dibutuhkan,” jelasnya.
Dengan kemampuan tersebut, hidrogen dinilai mampu menjadi pelengkap pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi alam.
Pacific Gas Indonesia pun optimistis bahwa seiring berkembangnya teknologi, meningkatnya kapasitas energi hijau, serta dukungan regulasi pemerintah, biaya produksi hidrogen akan semakin kompetitif sehingga penggunaannya akan semakin luas di berbagai sektor industri maupun transportasi.
“Kami percaya hidrogen akan menjadi bagian penting dalam ekosistem energi bersih Indonesia.
Seiring berkembangnya energi terbarukan, hidrogen hijau akan semakin ekonomis dan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional,” tambah Adryan Malindra kepada Poskota Nasional .com
