Jakarta, Poskota Nasional
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi bordir komputer, sebuah usaha lokal memilih tetap mempertahankan teknik bordir manual sebagai bentuk pelestarian warisan budaya sekaligus menghadirkan produk eksklusif bernilai tinggi.
Hal tersebut disampaikan Asti, Co-Owner, saat ditemui di sela Pameran Kreasi Bhayangkari di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Asti mengatakan, usahanya telah berdiri sekitar 10 hingga 12 tahun dan selama hampir satu dekade terakhir secara khusus berfokus pada produk bordir manual.
Teknik yang digunakan merupakan teknik bordir tradisional yang kini semakin jarang dikerjakan karena sebagian besar industri telah beralih menggunakan mesin bordir komputer.
“Teknik bordir yang kami gunakan memang ingin kami lestarikan karena saat ini sudah mulai langka. Pengrajinnya pun sebagian besar sudah berusia lanjut dan jumlahnya terus berkurang.
Kami tetap mempertahankan pengerjaan manual dengan mesin bordir yang dioperasikan tenaga manusia,” ujar Asti.
Menurutnya, sentuhan tangan para pengrajin menjadi nilai utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Setiap produk memiliki karakter yang berbeda meski berasal dari desain yang sama, sehingga menghasilkan karya yang unik dan eksklusif.
Selain proses pengerjaan yang sepenuhnya manual, seluruh warna kain juga dikembangkan secara khusus sehingga tidak ditemukan di pasaran.
Setiap koleksi diproduksi dalam jumlah sangat terbatas (limited edition), menjadikannya memiliki nilai eksklusivitas yang tinggi.
“Kami memang sengaja membuat koleksi dalam jumlah terbatas. Meskipun desainnya sama, hasil akhirnya akan tetap berbeda karena setiap pengrajin memiliki karakter tangan masing-masing. Warna-warna yang kami gunakan juga merupakan warna khusus yang kami kembangkan sendiri,” jelasnya.
Produk yang ditawarkan meliputi hijab, mukena, hingga koleksi busana yang menjadi lini terbaru perusahaan. Harga produknya bervariasi, mulai dari kisaran Rp 300 ribuan untuk hijab hingga jutaan rupiah untuk koleksi mukena premium.
Meski masih mengandalkan pemasaran secara daring melalui kanal milik sendiri, produk bordir manual tersebut telah berhasil menembus pasar internasional. Saat ini pelanggan datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Asti mengungkapkan bahwa mayoritas konsumennya merupakan kalangan dewasa yang menghargai nilai seni dan kualitas produk.
Namun, ia berharap semakin banyak generasi muda yang mulai mengenal dan mencintai kerajinan bordir manual sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal bordir manual.
Jika apresiasi terhadap karya ini meningkat, kesejahteraan para pengrajin juga akan semakin baik dan teknik bordir tradisional ini dapat terus bertahan,” tuturnya.
Melalui keikutsertaan dalam Pameran Kreasi Bhayangkari di JCC Senayan, Asti berharap produk-produk berbasis kerajinan tangan Indonesia semakin dikenal luas sekaligus menjadi wadah untuk memperkenalkan nilai seni bordir tradisional kepada masyarakat dan pasar yang lebih luas ,tambah Asti owner artijeda kepada Poskota Nasional
